
Senin, 04 Februari 2008
Sense of Humor sang Dirjen ....Siapa bilang pak Dirjen tidak humoris? - kiriman pak Indradjaja Dalel
Minggu, 03 Februari 2008
Kamis, 31 Januari 2008
PENAWARAN MERCHANDIZE YON 1 - SALAH SATU UJUD NYATA PRAKARSA SELABINTANA
- PAYUNG YON 1 : Rp. 50 000,00- KAOS DEWASA YON 1 : Rp. 60 000,00
- KAOS ANAK2x/REMAJA WARNA PUTIH : Rp. 50 000,00
- PIN YON 1 BESAR : Rp. 10 000,00
- MUG YON 1 : Rp. 25 000,00
********* STOP PRESS !!!! *************************************
WCDS
Bagi yang masih ingin memesan merchandize YON 1, berikut kami sampaikan daftar barang dan ganti ongkos produksinya. Biaya pengiriman akan dibebankan kepada pemesan.
Contact person : Enrico Aryaguna, email : toukairin354@students.itb.ac.id atau indowermacht@gmail.com
Dengan membeli barang-barang ini kita udah bantu Corps dan YON 1 lho, merealisasikan PRAKARSA SELABINTANA :) karena seluruh keuntungan untuk dana kegiatan Corps/YON1 :)
Salam dan terima kasih,
Esthi ( xix ) - wadanteam
A Magic Moment - kiriman Pak R. Brahmanta


WCDS,Dear Esthi, Kalau ketemu satu foto api unggun Selabintana yang OK, boleh juga dijadikan ilustrasi posting dibawah ini.Salam hangat dan thanks again atas semua kontribusi dan jerih-payah yang membawa sukses. BRM - Ekek XII
Notes : Foto kiriman kang Nono dan kang Mommi ( Duo Aboe :) ) ...Rgds, Esthi
"A Magic Moment"
Tidak pernah terbayangkan bahwa suatu ilusi kehangatan suasana Posko Yon I yang sarat kesetiakawanan, keakraban, keceriaan dan kekeluargaan serta-merta terbangun kembali, walau hanya untuk sekejap, di tengah hiruk-pikuk Temu Korp HANATA 2008 Selabintana.
Wajah-wajah sederet mantan penghuni reguler dan simpatisan Posko Yon I, berkumpul kembali di seputar api unggun, Sabtu 26 Januari 2008 lewat tengah malam.
Guratan wajah-wajah yang tak banyak berubah oleh waktu, ditingkah oleh kerut, uban dan rambut tipis disana-sini, cerminan goresan pahit-getir kehidupan dan kearifan yang lekat dengan usia. Cerita-cerita sumir dan humor-humor usang mengalir lancar.
Bagai sanak-keluarga hilang yang kembali ke pangkuan, semua terasa kembali pas dan klop duduk pada tempatnya semula seperti dulu, seakan tidak ada jurang waktu dan ber-dekade perpisahan fisik yang merentang dan memutus tali silaturahmi.
Bersama terbangnya percik-percik bara api yang mulai padam, suasana hati ikut terbawa terbang sejenak kembali ke masa lalu meretas ruang dan waktu yang seakan berhenti bergulir. Terima-kasih atas kesempatan langka ini, terima-kasih karena membantu menghadirkan kembali walau barang sekejap, kenangan hidup dibawah naungan Yon I tercinta yang sukacita, tanpa beban,tanpa susah namun penuh makna.
Haruskah dua tahun berlalu dulu agar bisa mengecap kehangatan suasana seperti ini lagi?
R, Brahmanta
Ekek XII.
Rabu, 30 Januari 2008
Oh ..IBU...YANG PANTANG MENYERAH - kiriman kang Iwan Munajad dan mas Kamto
Foto paling bawah : Mbak Ninies, Foto di atasnya : Mbak Pupu, Foto paling atas : Kiri ke kanan : mbak Lien, Mbak Nus, dan...siapa lagi yaa? ....ESTHI ( XIX )
From: anggota-bounce@mahawarman.net [mailto:anggota-bounce@mahawarman.net] On Behalf Of Agoeng, SukamtoSent: 31 Januari 2008 8:54To: anggota@mahawarman.netSubject: [anggota] Re: Old Ekek - Bis
Apa yang dimaksud dengan "Tapi saya bener-bener kagum sama old ekek ini terutama juga pada ibu (nenek) nya" oleh pak Iwan itu adalah yang terlampir ini ?
Wass.
SA EXV
From: anggota-bounce@mahawarman.net [mailto:anggota-bounce@mahawarman.net] On Behalf Of iwan munajatSent: Thursday, January 31, 2008 8:46 AMTo: anggota@mahawarman.netSubject: [anggota] Re: Old Ekek - Bis
Seru banget ceritanya Kang, apalagi kalau inget sudah pada tuwe dan pada beser sehingga perlu bulak balik ke wc… he.. he. Ditungguu deti cerita waktu baliknya dong … pasti seru juga. Bagaimana reaksi waktu denger Pak De Harto meninggal.
Tapi saya bener-bener kagum sama old ekek ini terutama juga pada ibu (nenek) nya. Waktu tea walk saya sangat yakin sekali kalau yang berhasil membawa mereka sampai kembali di Selabintana adalah “Gengsi” untuk menyerah, walau tuur sudah gemeteran, walau kepeleset beberapa kali tapi teteeeep dan kekeeeeh ngga mau nyerah.
-im
Sang perintis pasangan setia - Doktor yang penyanyi dan entertainer Ichjar Musa - kiriman Uda Irzal

From: anggota-bounce@mahawarman.net [mailto:anggota-bounce@mahawarman.net] On Behalf Of irzal sulainiSent: 31 Januari 2008 8:50To: anggota@mahawarman.netCc: bani-arb@indo.net.idSubject: [anggota] Secuil Kenangan SelabintanaWCDS,
Pertemuan di Selabintana meninggalkan banyak kesan mendalam, salah satu diantaranya bertemu dan akrab dengan Pak Ichjar Musa (01) dengan Ibu Yati Ichjar (04) .. salah satu perintis Pasangan Setia di Corps Menwa ..
Pak Ichjar .. Juara I Senior Putra Lomba Menyanyi Temu Corps .. suara dan akting beliau memang tidak perlu diragukan dengan wajah yang selalu lembut tapi cerah bersemangat pada usia 65 tahun, dengan santai dan pede juga menyanyikan lagu Gong Xi Fa Cai tanpa teks dan sambil berjalan-jalan turun kebangku penontan .. mantap.
Besoknya saya dapat kiriman Facsimile Data Isian Anggota .. apa yang menarik disana ??
Coba baca yang satu ini .. Dr. Ir. Ichjar Musa, SE, MM, MH .. seharusnya ditambah dengan gelar Penyanyi dan Entertainer. Layak untuk jadi panutan.
wassalam
irzalsulaini SI76
Ekek XI/A-760026
Cerita dari Bus Old Ekek - kiriman kang 22N


OLD EKEK - BIS
Belum banyak diceritain tentang Old Ekek yang datang pake bis dari Jakarta.
Cerita dimulai waktu Djoni ngirim SMS ke kita-kita Ekek Tuwa, kira-kira isinya : daripada kita jalan sendiri-sendiri bawa mobil ke Selabintana, ngebayinginnya juga sudah cape. Gimana kalo kita rame-rame pake bis? Langsung saja aku samber . . . . good idea ! Katanya nerusin, kalo jumlahnya dikit, kita pake bis yang isi 20an, kalo banyak pake yang gedean.
Singkat kate, jumlah yang minat lumayan banyak, jadilah rencana naik bis rame-rame itu. Djoni bilang kumpul di kantornya Pandri (E2) di Tri Patra Jl. Simatupang, Sabtu pagi jam 8 pagi. Emang karena gak tau, polos aja aku sms nanya Djoni, dimana kira-kira kantor Tri Patra itu. Enteng aja Djoni bales, . . . .lu tau dong Pondok Wisata, nah kira-kira beberapa bangunan sebelum itu. He he . . . , jawaban yang gak perlu ditanyain lagi untuk dijelaskan lebih lanjut . . . :-). Pertanyaan lain adalah, bisa gak nyimpen mobil nginep disana. Jawabnya, . . . bisa . . . , cuma risiko ditanggung sendiri katanya. . . . . Kalo yang ini aku gak percaya, maklum Pandri kan big bossnya disitu, pasti dia wanti-wanti sama anak buahnya untuk ngatur semua.
Pagi jam 7 aku sudah jalan dari rumah, pakai tol dari Slipi . . tembus ke tol Simatupang dan keluar di Fatmawati. Jam 8 kurang sudah sampe, kelihatan bis blibet (Blue Bird) yang kapasitas 40 sudah nongkrong, dan yang sampe duluan juga sudah banyak. Ketemu lagi beberapa old Ekek yang sudah lama gak ketemu, bikin seru suasana. Ada yang baru dateng, langsung gabruk-gabrukan . . . peluk-pelukan, saling nyapa . . . eh, lu . . . apa kabar . . . dll, sok akrab . . . , abis itu nanya bisik-bisik sama yang sebelahnya . . . eh . . . itu yang barusan siapa namanya yah . . . . Dasar tos aki-aki kabeh, geus pohoan . . . maklum sudah pada tua, jadi pelupa. Peserta yang ikut ternyata lumayan banyak, selain exMenwa, banyak juga exMenwinya. Trus yang bawa keluarga juga ada, yang bawa nyonya, anak, malahan Sakti lengkap bawa anak, mantu dan cucu juga.
Jam 8.30, sudah berbasa-basi di luar bis, sudah berbulak-balik ke WC, semua naik ke atas bis, sambil diabsen sama Pak Aden, yang bukan orang Sunda itu. Tinggal satu lagi katanya, Wimoko (E4). Anak-anak yang sudah mulai kesel, bilang . . . coba cek tuh, jadi ikut ga . . . Djoni yang tau semua orang, ngecek lewat HPnya. . . , trus dia bilang ‘on the way’ udah deket tinggal di seberang. Tapi otw nya Moko ternyata takes another 15 minutes. Waktu dia naik ke bis, inosen banget, gak ada tuh perasaan bersalah, padahal udah disorakin, cuek aja langsung cari tempat duduk yang kosong.
Baru kita jalan dan masuk jalan tol, Ira sudah hallo-hallo kasih pengumuman, katanya kita banyak makanan, jadi makanan yang gak tahan lama mau diedarin duluan. Dan mulailah acara ‘wisata kuliner a’la YON I’, segala macam makanan diedarkan gak abis-abis, lemper, risoles, kue lapis, bika ambon, roti segala jenis dari roti unyil, roti Holland Bakery, roti isi daging asap, buah-buahan apel, macem-macem jeruk, pisang, terus minuman teh kotak macem-macem, kopi kemasan, aqua dll, ditambah lagi dengan segala jenis permen. Pokoknya heboh judulnya, kita ngobrol ngalor ngidul sambil gak berhenti ngunyah. Perjalanan lumayan cepet sampe ke Ciawi, disini ada sedikit keributan adu menang pendapat, itu yang didepan simpang Ciawi bukan, ke kiri ke mana, ke kanan ke mana dll, dasar tua-tua . . saling keukeuh, padahal akhirnya semua sependapat, lampu merah itu simpang Ciawi . . . dasar . . ! Di pompa bensin Ciawi kita naikin penumpang yang tinggal di Bogor, Pak Gunardi – Westerling kita, salah satu selebriti Ekek jaman tahun 1965an. Setelah sedikit celingak celinguk, Gunardi bertelepon-telepon sebentar. Ternyata yang dicek adalah keberadaan mobil Polisi, yang janjinya ada di Ciawi. Gak nyangka juga, trus Djoni ngejelasin bahwa kita akan dikawal sama mobil Polisi sepanjang jalan ke Selabintana, karena jalanan macet abis kalo hari Sabtu. Bener juga, akhirnya pak Polisi kita tiba-tiba usah ada di depan bis, dan mulai ngebunyiin sirinenya. Hebat juga nih ! Waktu aku nanya, ternyata yang ngatur semua ini Adnan (E2), yang punya kawasan disini. Kita juga ngejemput dia di Lido, tempat dia jadi big bossnya disitu.
Berhenti kedua di Lido, sekalian naikin penumpang baru Pak Adnan. Ini bener-bener serdadu kambuhan, dipinggir jalan nungguin sambil bawa senjata. Waktu berhenti disini, diumumkan kalau ada yang mau ke belakang, silahkan turun. Ternyata hampir semua turun, mau ke belakang . . . . yang tempatnya bukan di belakang tapi . . . . . ada di depan! Karena banyakan, ya bapa-bapanya, ibu-ibunya juga, jadilah pada ngantri. Ada ibu yang sudah agak kebelet, ampir nyasar ke tempat cowo, yang persis sebelahan. Gak tau apa sengaja pura-pura nyasar . . he he . . Dari tempat cowo ada yang ngomong protes, wah gak ada aer nih, trus ada yang nyamber . . . udah tayamum aja gak usah pake aer! Ada lagi yang bilang, pake obat aja . . . obat-abit . . .! (Untuk yang ini perlu dicatet nih sama Pak Adnan, supaya tar ’belakang’nya ditambahin fasilitas air). Alhasil, plong . . . semua sudah menunaikan hajatannya. Dan kita nerusin perjalanan lagi. Jalan tambah padat, tapi semua bisa diterabas sama pak Polisi kita, sampe orang-orang dijalan ngeliatin, ini bis isinya siapa? Belum lagi Pak Aden yang rada hot tempered, dari atas bis aja bantu marah-marahin orang yang ga mau minggir. . . . Sabar Pak Aden . . , biar polisi saja yang ngatur. Asdaryanto yang bawa mobil sendiri sempet kontak-kontakan, aku ada satu kilo di depan, tar mau ikutan di belakang bis. Ternyata waktu kesusul, gak bisa juga nempel di belakang bis karena bis kita nyeruduk-nyeruduknya dibantu mobil polisi sih.
Dan . . . akhirnya . . ., nyampe lah kita di Selabintana, dan seterusnya gabung dengan teman-teman lain.
Cerita waktu pulangnya, gak kalah seru, karena beberapa waktu setelah jalan, ada pemberitahuan bahwa Pak De meninggal. Tapi itu another story.
Waktu sudah sampai ke Jakarta kembali, aku bilang : ’thanks Djon’, terus dia bilang ’terima kasihnya sama Pipin’. Jadi kita semua berterimakasih sama Pipin (Arifin Panigoro – E2), yang sudah mensponsorin bis untuk para Ekek tua ini. Dan juga sama Pandri (E2), yang sudah ngasih tempat untuk kumpul di kantornya, padahal dia sendiri ada di Amrik. Tapi hari Sabtu Minggu Satpamnya lengkap dengan seragam safarinya, ikut ngatur-ngatur kendaraan kita semua disana. Emang kalo liat gitu, keliatan sekali Yon I sekarang perlu rada dipermak, supaya jadi sumber gaya lagi. Masa kalah sama Satpamnya Pandri.
Salam,
Tutun - 3
Laporan Pandangan Mata Super Lengkap dari bang Irzal Sulaini - Revisi Baru
LAPORAN PANDANGAN MATA
“TEMU CORPS MENWA YON-I MAHAWARMAN”
Selabintana-Sukabumi
Sabtu-Minggu, 26-27 Januari 2008
______________________________________________________________________________________
Prolog
Puji Syukur dipanjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, yang selalu memberikan rakhmat dan karunia, membimbing dan melindungi kita, acara Temu Corps tersebut berlangsung dengan aman dan nyaman serta zero accident, full of silaturrahmi, tercatat dalam buku tamu 143 Ekek (Alumni +Aktif) yang hadir beserta keluarga yang diperkirakan semuanya mencapai sekitar 350 orang, berkumpul disatu tempat, fantastic, menakjubkan, larut dalam kegembiraan, pikiran menerawang kembali kezaman tempo doeloe .. lalu tertawa, ngakak dan ngikik .. sungguh langka kesempatan ini.
Tanpa mengurangi rasa hormat dan salut terhadap kontribusi dari anggota panitia dan peserta, 2 jempol pantas diacungin buat Ahya (18-Komandan), Esthi (19-Wakil Komandan), Indra (16-Bendahara), Maria (20-Bendahara), Budi Nirwanto (13-Pendaftaran), Samsi (19-Pengaturan Ruangan), Nining (23-Konsumsi), Syafril (12-Informasi), Asep (19-Humas) dan Mas Susilo (7-Pembina + Pengarah Aktif), Tim Lapangan dibawah komando Komando Kang Djandjan (07) didukung oleh Bambang “Sentot” Prihandono (13) dan Wayan Yose (19) serta dedikasi penuh disegala bidang dari puluhan Ekek aktif beserta Dan Yon baru (Anggun-39).
Ketika rapat terakhir di Gatra, pada hari H-4, kondisi cash-flow yang masih minus, penfaftaran peserta yang sangat “dinamis” dalam perubahan, ketersediaan kamar yang kritis, round-down acara yang belum final dan setumpuk masalah yang perlu terus-menerus untuk diselesaikan, sungguh membuat kepala pusing, sungguh membuat tidur tak nyenyak.
Alhamdulillah, Sang Pencipta selalu memberikan kelapangan dari waktu-kewaktu, sejumlah donator berpartisipasi, sejumlah anggota ikut aktif urun-rembug, dinamika saran-komentar-kritikan-pendaftaran di milis yang mencapai ~ 150 email perhari sungguh membuat semangat juang panitia tetap terjaga penuh, semakin dekat kehari H semakin nyaman, persiapan dan penyempurnaan acara semakin ditingkatkan walaupun fisik dan stamina semakin terkuras .. tapi wajah dan mata semakin cerah dan bersinar.
Walaupun kehilangan acara TV diakhir minggu, final tunggal putra-putri Australia Terbuka 2008 serta pertandingan tinju Chris John, namun bisa ditutupi dengan kebahagiaan dan kesan yang mendalam yang didapat selama mengikuti Temu Corps ini.
Sabtu, 26 Januari 2008
Saya dan keluarga, yang setelah seharian penuh (Jum’at) masak rendang dan dendeng balado, berangkat dari rumah pukul 07.00 dan sampai di Selabintana pukul 09.30, sekitar 2.5 jam dalam perjalanan yang kurang nyaman, macet dimana-mana .. sebagai tamu pertama yang mendaftar, saya cukup puas menyaksikan kesiapan penuh dari anggota panitia yang sudah datang sejak Kamis dan Jum,at, saya dilayani dengan sopan dan senyum manis oleh para Ekek Aktif yang selalu berseri, semuanya berjalan lancar, pembagian kamar juga sudah tertata apik, lalu ketika tiba di meja Merchandise … woooow, bermacam barang pajangan dengan desain yang sagat menarik ada disana, mulai dari Kaos (Dewasa dan Anak2), Topi, Mug, Pin, Kalender, Payung … sungguh menarik, terima kasih Kang Djandjan (07) atas semua upaya dan kreasi yang tak habis-habisnya, laris-manis tentunya, dalam hati saya bilang bahwa wujud fisik dari merchandise ini merupakan pertanda baik bagi kesuksesan acara Temu Corps ini, bisa meningkatkan sense of belonging peserta, sungguh indah ..
Ada ruang sekretariat yang memang dari sononya selalu bernasib berantakan dengan berbagai barang, ada ruang rapat Melati dibawahnya yang sudah tertata apik untuk diskusi, diatas ruang pendaftaran ada ruang temu-ramah juga sudah rapih dan siap digunakan untuk acara malam ramah-tamah dan hiburan, dan dilapangan luar sudah berdiri 2 tenda peleton dan banner, sungguh semuanya meningkatkan semangat.
Menjelang makan siang, satu-persatu anggota dan keluarga datang, puncaknya ketika Bus Big Bird datang, puluhan Old Ekek Angkatan 1,2,3, 4 dst .. muncul dari pintu bus, sangat rame, heboh, memang kali ini beliau-beliau itu (alumni menwa dan menwi) yang medominasi kepesertaan, terutama Angkatan-4 .. sepertinya acara ini sangat dinanti-nanti, suasana silaturrahmi sangat kental, akrab dengan ngomong loe-gue sesama mereka, rasa kebanggaan angkatan terlihat jelas, dan … diatas segalanya rasa memiliki Ekek terasa tidak pernah memudar, sungguh saya (yang hadir pertama kali diacara ini) jadi sangat terharu, beliau-beliau itu contoh perwujudan nyata bagi anggota senior, junior dan aktif lainnya bahwa semangat sense of belonging itu selalu ada dihati, beliau akrab dan ramah ketika disapa dan diajak berbincang-bincang, sure … old ekek never die and never crack under pressure.
Pak Tjarda (02) dan Ibu Endang (04) tersenyum simpul dan merasa bangga ketika saya sampaikan bahwa gaya hidup beliau (nikah antar anggota) banyak diikuti oleh anggota sesudahnya, termasuk Komandan Panitia Ahya (18) dengan Wakil Komandan Esthi (19). Suasana sore dan malam hari di Posko Yon-I dulu memang romantis membuat banyak anggota yang berikrar untuk hidup bersama, disamping itu pacaran se-unit itu termasuk usaha yang bersifat “pahe=paket hemat”, Pak Tjarda dan Ibu Endang tersipu-sipu.
Gembira sekaligus kaget, ketika saya melihat kehadiran Pak Luluk Sumiarso (07) yang Dirjen di ESDM, dekat meja pendaftaran beliau sempat bilang “Saya hanya punya waktu sampai sore ini dan harus kembali ke Jakarta, tapi kesempatan untuk kumpul-kumpul seperti ini sayang sekali untuk dilewatkan, sukses buat panitia yaa” Tengkyu pak.
Sulit untuk dibayangkan tapi ini sungguh sebuah kenyataan ketika semuanya berkumpul mulai dari Ekek-1/1961 (Pak Haryono, Pak Soekirno) sampai Ekek Termuda 41/2007, ada perbedaan 40 angkatan dalam rentang waktu 46 tahun, aktualisasi sebuah perjalanan sejarah.
Makan siang sekaligus Ramah-Tamah Tahap-1 selesai, jam 14.00 WIB acara dilanjut dengan pameran foto, puluhan foto lama dalam ukuran besar terpajang rapih, disamping senang melihat foto-foto lama, ada juga yang menitikkan air mata, entah karena alasan apa .. tapi itu merupakan sebuah respon yang sangat manusiawi apabila diingatkan kembali kepada masa lalu. Dilapangan hijau yang luas dan apik, dalam kondisi cuaca cerah dan sejuk, sementara acara aneka lomba gembira buat anak-anak berlangsung, lalu ada pertandingan tarik-tambang yang seru antara Old Ekek vs Young Ekek, terbentuklah beberapa kelompok ngobrol-ngobrol, nostalgia dan Ramah-Tamah Tahap-2, penuh gelak-tawa, foto sana-foto sini. Tengkyu berat buat Bimo (28) atas sumbangan minuman Green Sand (yang zero alcohol) dalam jumlah yang sangat lumayan.
Menjelang jam 15.00 WIB, peserta berkumpul diruang Melati untuk diskusi Corps Menwa Yon-1, penuh atensi dari peserta, ruangan menjadi penuh .. mungkin ini juga merupakan acara Ramah-Tamah Tahap-3, kumpul-kumpul setiap saat dimana saja, acara dipandu oleh Mas Susilo (07), Ahya (18), Oetomo (24), Bimo (28), Anggun (Dan Yon) dan Enrico (Ekek Aktif) .. Dalam dikusi, ada kalimat yang menarik dari Pak Budiono Kartohadiprodjo (03) “Menjadi orang baik itu mudah, yang sulit adalah menjadi orang yang bermanfaat”, setuju banget pak ..logikanya, menjadi orang jahat tentu sangat mudah.
Diskusi ini bertujuan untuk Revitalisasi Yon-1 dimasa depan, dalam kondisi sekarang ini yang berada dibawah garis kemapanan, kurang perhatian dari ITB, termasuk tidak dapat bantuan anggaran tahunan, banyak kritikan dan sorotan negative dari warga ITB (mahasiswa dan dosen), kekurangan anggaran rutin dan biaya diksar, dsb. Trenyuh sekali rasanya ketika mengetahui bahwa animo mahasiswa/wi untuk mengikuti Diksar sangat menurun mulai dari tahun reformasi 1998 (7 orang), 1999 (7) bersamaan dengan dihentikannya Dana Bantuan Tahunan dari ITB, 2000 (7) bersamaan dengan Pencabutan SKB yang membuat kondisi makin parah, 2001 (5), 2002 (3), 2003 (3) .. sedih rek. Mulai tahun 2004, setelah program rebuilding corps dijalankan, maka peserta Diksar mencapai rata-rata 20an sd 30an setahun, itupun dengan sumber biaya dari “Saweran” dan peserta Diksar mendapat banyak peralatan latihan gratis. You know, sekarang ini jumlah Ekek Aktif terdaftar hanya 70 orang, yang aktif dikegiatan sekitar 40an. Padahal dizaman jayanya tahun 1960an satu kali Diksar pernah mencapai 3 Kompi atau sekitar 300an.
Diskusi yang berakhir pada jam 17.00 WIB mendapat banyak masukan positif dari peserta, yang kemudian dirangkum dalam suatu kesepakatan bersama yang diberi nama PRAKARSA SELABINTANA.
Menjelang akhir diskusi, hujan turun cukup deras, peserta pada gelisah dan bertanya .. Gimana nih rencana api unggun, renungan dan doa nanti malam ?? Dengan tenang Komandan Ahya menjawab .. kita sudah bekerjasama dengan pihak lain (pawing hujan) dalam melakukan sebuah upaya, mudah2an everything going well .. Dan memang, believe it or not, mulai jam 18.00 sampai besok siangnya .. langit bersih dan udara cerah, serta hujan pergi entah kemana.
Jam 19.00 WIB, ruang makan mulai dipenuhi anggota, makan malam sambil Ramah-Tamah Tahap-4, menu makanan cukup enak dan dalam jumlah yang sangat cukup, tengkyu berat buat Nining (23-Seksi Konsumsi) yang selalu berpikir dan bekerja keras untuk menjaga kestabilan urusan yang sangat pokok ini, suasana makan yang rame mirip pasar malam, stabil dengan kicauan suara dan kehebohan disana-sini. Selesai makan malam jam 19.45 WIB, acara pindah keruang atas, malam Ramah-Tamah-5 dan hiburan ..
Dimulai dengan sepatah kata Komandan Panitia dan memperkenalkan Anggota Panitia, ada Slide-show yang dipandu oleh Pak Tutun (03), ada hiburan dari Orgen Tunggal dan Penyanyi Lokal, serta lomba nyanyi antar angkatan yang dipandu olek Pak Sakti Tamat (03) yang ternyata juga seorang penyanyi tangguh, Pak Ichjar (02) yang kelihatan gagah Juara I Pria Senior, suara dan akting yang sangat mantap, seharusnya beliau dulu memiilih karir jadi penyanyi, lalu ada Esthi (19) sebagai Juara I Wanita Senior .. wanita yang memiliki berbagai kemampuan mengagumkan ..
Sebagai hasil diskusi disore hari, maka malam itu PRAKARSA SELABINTANA ditanda-tangani oleh para DanYon, Alumni Senior dan Pengurus, sebagai pedoman revitalisasi Yon-1 dimasa depan, ringkasannya kira-kira : Program jangka pendek dan panjang dibuat oleh Ekek Aktif dibimbing oleh Senior kemudian disosialisasikan kepada Anggota, kepada ITB dan kepada Pihak Terkait lainnya untuk mendapat dukungan moril dan materil
Pukul 22.15 WIB, peserta pindah kelapangan hijau terbuka, mengikuti acara Api Unggun, Renungan dan Doa, dalam kondisi langit cerah dan udara yang hangat tanpa embun, dibawah tenda disana sudah tersaji sejumlah cemilan lokal (ubi goreng, kacang rebus, bandrek, bajigur, dll.) serta top menu berupa 3 ekor kambing guling, 10 kg ikan mas bakar, rendang, dendeng balado, lontong dan nasi putih .. Saya sebagai supervisor konsumsi bersama Nining (panitia pelaksana) awalnya merasa sangat khawatir dengan jumlah konsumsi yang banyak pada acara ini, padahal jam 19.45 baru selesai makan malam .. apa yang terjadi ??
Suasana hati yang damai, pikiran yang terbuka serta udara yang sejuk membuat perut cepat lapar .. 3 ekor kambing guling beserta 10 kg ikan mas bakar hanya tinggal tulang-tulangnya, rendang dan dendeng balado nyaris ludes, apalagi bajigur dan bandrek, yang tersisa .. hanya cemilan lokal serta jagung baker, mungkin karena sudah terlalu kenyang.
Cukup mengagetkan, daging kambing guling yang “sedikit berbahaya” terutama bagi kelompok over seket (50 tahun keatas) ternyata sangat dinikmati oleh peserta senior .. mudah-mudahan ini sebuah pertanda kesehatan yang prima.
Ketika api unggun sedang menyala, dikelilingi ratusan peserta, Pak Edhi (02) memimpin Renungan dan Doa, dalam suasana yang sakral dan emosional, beliau menyampaikan puji syukur kehadirat Allah YMK, atas segala rakhmat dan karunia yang telah kita terima, memohon kepadaNYA agar diberikan kelapangan dan kemudahan kepada teman-teman kita yang sudah menghadap lebih dulu, renungan yang khidmat dan mengesankan. Api unggun memang dekat dengan keheningan dan alam, dekat dengan kerendahan hati, dan dekat dengan ketenangan serta kedamaian .. Malam itu sudah ada peserta yang pulang, people come and go, sesuai dengan ketersediaan waktu masing-masing, dengan membawa refreshing kenangan Yon-1 yang tetap terukir dihati dan lengket dikepala.
Hanya jagung bakar yang nasibnya kurang beruntung dan kurang peminat, 3 karung jagung yang telah disiapkan terpaksa menganggur didalam Tenda Peleton yang juga kosong, ada kelompok yang masih berdiskusi ditemani jagung baker, begitu juga dengan hasrat hati saya yang tadinya ingin tidur di Tenda Peleton terpaksa dibatalkan .. menjelang pukul 00.30 WIB, tidak ada orang yang tidur disana, pada kemana mereka … emangnya gue ingin tidur sendirian ditemanin jurig ??
Memang ada 2 tenda kecil disana yang dibawa peserta karena anak-anak mereka ingin sekalian berkemah. Saya terpaksa come back ke kamar hotel bergabung bersama Istri dan Anak. Tidur sekitar 4 jam, waktu terasa sangat cepat, mau mandi .. ?? Saya ingat emailnya Maria (20) yang kenyataannya benar, kalau water heater hotel Selabintana kurang handal, pagi itu terpaksa mandi dengan air dingin .. weeeeee, dinginnya mak …apa boleh buat acara mandi must go on, sebagai anggota corps menwa tidak boleh cengeng dan mudah mengeluh ..
Minggu, 27 Januari 2008
Jam 06.00 WIB ada informasi melalui pengeras suara, ada senam pagi dilapangan, cukup banyak pesertanya dengan semangat penuh, padahal tidurnya sudah larut malam .. saya terpaksa tidak ikut karena harus bantu Nining (09) mengatur makan pagi dengan pihak Hotel, ada nasi goreng, telor matasapi, ayam goreng, acar dan kerupuk udang, lalu .. Rendang dan Dendeng Balado (Hijau dan Merah) plus air putih, air jeruk, kopi dan The Panas, sebuah menu makan pagi yang sangat lumayan, pagi itu sejumlah peserta masih berdatangan untuk mengikuti acara yang tersisa.
Rencana trekking ke Curug Cibeureum terpaksa dibatalkan mendadak, karena malamnya ada informasi dari yang punya gawe (Kang Djandjan/07) bahwa sebagian rute trekking “longsor atau terkena longsoran”. However, no problem at all, cadangan acara teawalk didalam area kebun teh juga sangat menarik walaupun cukup melelahkan, ada sekitar 45 menit mengikuti jalan menanjak ~ 10o dijalan berbatu campur tanah dan rumput, dengkul terasa mau copot, tapi selalu ada semangat pantang menyerah, selain malu dengan Angkatan Senior yang tetap kelihatan fit dan tanpa masalah, juga malu kepada anak-anak yang kelihatan ceria, full of keringat dan ngos-ngosan tentunya, lalu .. ada persimpangan jalan, yang satunya masih lurus dan menanjak, sedangkan satunya lagi belok kiri menurun .. plong, rutenya ternyata mengikut jalan menurun selama 15 menit sebelum istirahat di Pondok Halimun dipinggir Kali Age .. alamak, air sungai yang dingin dan jernih, sangat segar pencuci muka dan keringat, suasana pegunungan yang hijau segar, ada green-sand kiriman Bima (28) yang juga tak kalah segar dan kotak snack yang jadi lebih enak, sungguh sebuah kenikmatan alamiah yang optimal mengikuti rute teawalk hasil desain Kang Djandjan (07) yang more than enough.. tengkyu pisan atuh akang.
Masih diperlukan sekitar 30 menit lagi menuju Hotel, melangkah dijalan setapak dilingkungan alam yang indah, nyaman karena tidak ada lagi tanjakan, perlu sedikit hati-hati agar tidak terpeleset dijalan tanah dan rumput yang cukup sempit dan licin .. sampai dihalaman belakang hotel, full of keringat. Ada anekdot dalam perjalanan ini, ketika kita lagi ngos-ngosan berjalan, seorang tukang baso dengan pikulan lengkapnya datang dari arah yang berlawanan, kita menurun dia mendaki .. dia tidak terlihat capek.
Dibelakang hotel, arena flying fox sudah siap, sekali terjun Rp. 10 ribu, cukup banyak penggemar dari anggota dan keluarga, termasuk Mas Hardjono (08) yang aslinya anggota penerjun bebas, kali ini dengan laporan lengkap mengawali peluncuran .. Lapor, Nama Hardjono Setiabudi, Nrp A-720024 siap untuk meluncur .. sekedar mengenang kembali kegiatan turun-tali dimasa lalu, ada suara lembut nyanyian dari Pak Yunus Situmorang (05) walaupun tidak didampingi Orgen. Sudah mendekati jam 11.00 WIB, ketika acara pagi itu ditutup dengan foto antar Angkatan, sebuah kenang-kenangan yang mahal tentunya, lalu pada beres-beres barang dikamar hotel, kemudian kembali berkumpul diruang makan siang ..
Saya dan nyonya merasa sangat berbahagia karena 6 box tupper ware yang berisi rendang dan dendeng hanya tersisa kotaknya untuk dibawa pulang, sedangkan 10 kg ikan mas bakar sudah ludes tadi malam, mudah-mudahan enak dan bermanfaat bagi semua peserta yang mencicipi. Juga sekalian buat uji coba, mana tahu bisa diandalkan pada masa pension nantinya.
Diruang makan, sejumlah merchandise tetap laris-manis, memang barang bagus sih … buat anggota Corps yang tidak berkesempatan datang, saya mendukung sekali jika anda mengoleksi sekaligus memakai merchandise yang sangat cihui tersebut, silahkan paksa Panitia untuk mengirimkan barang tersebut ketempat anda, setelah dibayar lunas tentunya. Waktu berjalan terasa sangat cepat, selesai makan siang, peserta pamit satu-persatu, pulang ketempat masing-masing membawa sejuta kenangan, sejuta kebahagiaan, semangat corps terasa sudah discharge lagi, badan boleh capek tapi hati dan pikiran terasa lapang dan nyaman .. Yaa Tuhan, betapa besar nikmat yang telah kau berikan pada kami.
Ada yang sangat menonjol dan terjaga dari peserta selama pelaksanaan kegiatan ini … disiplin waktu, disiplin acara, jarang mengeluh dan jarang protes serta penuh pengertian, selalu berbagi tugas dan kerja, tetapi tetap akrab dan ramah walaupun berbeda angkatan, satu peninggalan yang baik dari sebuah latihan militer. Khusus untuk Old Ekek (1 sd 4) yang umumnya memakai pakaian militer, hijau maupun loreng, terasa ada kebanggaan, yang ibu-ibu terlihat modis dan selalu gembira. Istri saya bilang, 10 tahun lagi papa juga seperti mereka itu, saya hanya menjawab .. Insyaallah.
Dilain pihak saya agak kaget plus kecewa ketika melihat seragam PDL Ekek Aktif, persis seperti pakaian anggota TNI AD tanpa pangkat, dulu .. dikrah baju PDL kita ada bordiran/tempelan tanda senioritas, silangan pena dan bedil serta garis merah/kuning/putih dikedua pinggirnya, .. Lebih sedih lagi melihat PDL DanYon (Anggun/39), didada kiri tidak ada emblim komandan (dulu warnanya kuning emas), dari seluruh PDL Ekek Aktif yang hadir, tidak ada satupun terlihat tanda wing didada, seperti wing terjun, menembak, dll .. apakah karena tidak punya kesempatan, atau tidak ada biaya, atau karena hal lain .. ?? Beda banget dengan sejumlah wing yang tersusun rapih dan gagah diseragam Pak Iwan Z.G. (05) atau Pak Aden (04) dizaman dulu.
Selama 2 hari tersebut saya bertemu lagi dengan teman lama, wajah-wajah yang sangat saya kenal sekitar 30 tahun yang lalu, sungguh membahagiakan .. antara lain Pak Aden (04), Kang Iftikar (08), Mas Hardjono (08), Kang Eddy V.D (08), Kang Iwan (09), Kang Dani (09), Kang Herman Sinsar (09), Bang Adamsyah (09), Uda Yos Rizal (09), Mas Wachju D (10) , Mas Anggit (10), Wiryawan (11, datang dari Tanjung Enim), Dudi Setiabudi (11), Trijoko (11, datang dari Yogyakarta), Tiena (11), dll. … masih ada keinginan yang belum kesampaian untuk bertemu dengan Pak Iwan Z.G. (05) dan Vera (11), Pak Priyo (08), Pak Krishna (08), Mbak Tya yang cakep (08), Kang Dadan (09), Uda Eddy Z.G (09), Uda Gustaf Ocim (09), Kang Samud (09), Mas Alex (10), Mbak Anna (10), Abadi (11), dll … mudah-mudahan pada kesempatan yang akan datang.
However, for sure .. saya merasa sangat beruntung dan makin kaya batin, baru nongol dimilis bulan September 2007, langsung larut dalam hangar-bingar HANATA-IV, makin banyak kenal wajah dan akrab dengan para senior dan yunior, rasanya dunia jadi lebih lapang dan lebih indah. Tapi, kok selalu terasa ada yang masih kurang .. Saya ingin punya Kartu Tanda Anggota Corps Elektronik, saya ingin punya Jaket Loreng Corps, yang didisain khusus buat semua anggota corps (yang berminat tentunya), karena saat ini tidak satupun ada tanda pengenal diri bahwa saya itu adalah Anggota Corps Yon-1, rasanya perlu kita pikirkan bersama untuk diwujudkan, ada komentar/saran .. ??
Menjelang pulang ke Bogor, salam-salaman sesama Panitia, ada ide dari Mas Susilo (07), Temu Corps selanjutnya ada baiknya dilaksanakan dipinggir pantai, seperti pantai Carita ? Menarik juga tuh sebagai wacana sangat awal. Sementara didalam ransel saya sudah menumpuk sekitar 75 lembar Data Isian Anggota untuk diproses, alahmdulillah .. ada kerjaan buat akhir minggu.
Akhirulkalam, kalau ada yang kurang dalam laporan ini, mohon teman-teman yang hadir untuk melengkapi. Kalau ada kata2 yang keliru .. maafkan saya dengan sepenuh hati yaa.
wassalam
irzalsulaini SI76
Ekek XI/A-760026
Tentang FOTO :
Walaupun saya bisa mengambil foto sekitar 100 anggota (untuk persiapan Direktori Yon-1), saya tetap merasa bersedih karena tidak bisa mengambil semuanya, padahal ini kesempatan yang sangat baik, kemampuan digital camera saya memang segitu, sayangnya tidak bisa dikosongkan karena tidak ada fasilitas internet di Selabintana, saya juga ragu untuk nyimpan file foto di lap-top panitia ..
Saya sangat berharap bisa dapat share foto dari Beta (Ekek 30) yang aktif ngambil foto atau teman-teman yang ngambil foto, nanti hasil fotonya bisa di crops. Bagi teman-teman yang ngambil foto acara demi acara silahkan dirilis dimilis.
“TEMU CORPS MENWA YON-I MAHAWARMAN”
Selabintana-Sukabumi
Sabtu-Minggu, 26-27 Januari 2008
______________________________________________________________________________________
Prolog
Puji Syukur dipanjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, yang selalu memberikan rakhmat dan karunia, membimbing dan melindungi kita, acara Temu Corps tersebut berlangsung dengan aman dan nyaman serta zero accident, full of silaturrahmi, tercatat dalam buku tamu 143 Ekek (Alumni +Aktif) yang hadir beserta keluarga yang diperkirakan semuanya mencapai sekitar 350 orang, berkumpul disatu tempat, fantastic, menakjubkan, larut dalam kegembiraan, pikiran menerawang kembali kezaman tempo doeloe .. lalu tertawa, ngakak dan ngikik .. sungguh langka kesempatan ini.
Tanpa mengurangi rasa hormat dan salut terhadap kontribusi dari anggota panitia dan peserta, 2 jempol pantas diacungin buat Ahya (18-Komandan), Esthi (19-Wakil Komandan), Indra (16-Bendahara), Maria (20-Bendahara), Budi Nirwanto (13-Pendaftaran), Samsi (19-Pengaturan Ruangan), Nining (23-Konsumsi), Syafril (12-Informasi), Asep (19-Humas) dan Mas Susilo (7-Pembina + Pengarah Aktif), Tim Lapangan dibawah komando Komando Kang Djandjan (07) didukung oleh Bambang “Sentot” Prihandono (13) dan Wayan Yose (19) serta dedikasi penuh disegala bidang dari puluhan Ekek aktif beserta Dan Yon baru (Anggun-39).
Ketika rapat terakhir di Gatra, pada hari H-4, kondisi cash-flow yang masih minus, penfaftaran peserta yang sangat “dinamis” dalam perubahan, ketersediaan kamar yang kritis, round-down acara yang belum final dan setumpuk masalah yang perlu terus-menerus untuk diselesaikan, sungguh membuat kepala pusing, sungguh membuat tidur tak nyenyak.
Alhamdulillah, Sang Pencipta selalu memberikan kelapangan dari waktu-kewaktu, sejumlah donator berpartisipasi, sejumlah anggota ikut aktif urun-rembug, dinamika saran-komentar-kritikan-pendaftaran di milis yang mencapai ~ 150 email perhari sungguh membuat semangat juang panitia tetap terjaga penuh, semakin dekat kehari H semakin nyaman, persiapan dan penyempurnaan acara semakin ditingkatkan walaupun fisik dan stamina semakin terkuras .. tapi wajah dan mata semakin cerah dan bersinar.
Walaupun kehilangan acara TV diakhir minggu, final tunggal putra-putri Australia Terbuka 2008 serta pertandingan tinju Chris John, namun bisa ditutupi dengan kebahagiaan dan kesan yang mendalam yang didapat selama mengikuti Temu Corps ini.
Sabtu, 26 Januari 2008
Saya dan keluarga, yang setelah seharian penuh (Jum’at) masak rendang dan dendeng balado, berangkat dari rumah pukul 07.00 dan sampai di Selabintana pukul 09.30, sekitar 2.5 jam dalam perjalanan yang kurang nyaman, macet dimana-mana .. sebagai tamu pertama yang mendaftar, saya cukup puas menyaksikan kesiapan penuh dari anggota panitia yang sudah datang sejak Kamis dan Jum,at, saya dilayani dengan sopan dan senyum manis oleh para Ekek Aktif yang selalu berseri, semuanya berjalan lancar, pembagian kamar juga sudah tertata apik, lalu ketika tiba di meja Merchandise … woooow, bermacam barang pajangan dengan desain yang sagat menarik ada disana, mulai dari Kaos (Dewasa dan Anak2), Topi, Mug, Pin, Kalender, Payung … sungguh menarik, terima kasih Kang Djandjan (07) atas semua upaya dan kreasi yang tak habis-habisnya, laris-manis tentunya, dalam hati saya bilang bahwa wujud fisik dari merchandise ini merupakan pertanda baik bagi kesuksesan acara Temu Corps ini, bisa meningkatkan sense of belonging peserta, sungguh indah ..
Ada ruang sekretariat yang memang dari sononya selalu bernasib berantakan dengan berbagai barang, ada ruang rapat Melati dibawahnya yang sudah tertata apik untuk diskusi, diatas ruang pendaftaran ada ruang temu-ramah juga sudah rapih dan siap digunakan untuk acara malam ramah-tamah dan hiburan, dan dilapangan luar sudah berdiri 2 tenda peleton dan banner, sungguh semuanya meningkatkan semangat.
Menjelang makan siang, satu-persatu anggota dan keluarga datang, puncaknya ketika Bus Big Bird datang, puluhan Old Ekek Angkatan 1,2,3, 4 dst .. muncul dari pintu bus, sangat rame, heboh, memang kali ini beliau-beliau itu (alumni menwa dan menwi) yang medominasi kepesertaan, terutama Angkatan-4 .. sepertinya acara ini sangat dinanti-nanti, suasana silaturrahmi sangat kental, akrab dengan ngomong loe-gue sesama mereka, rasa kebanggaan angkatan terlihat jelas, dan … diatas segalanya rasa memiliki Ekek terasa tidak pernah memudar, sungguh saya (yang hadir pertama kali diacara ini) jadi sangat terharu, beliau-beliau itu contoh perwujudan nyata bagi anggota senior, junior dan aktif lainnya bahwa semangat sense of belonging itu selalu ada dihati, beliau akrab dan ramah ketika disapa dan diajak berbincang-bincang, sure … old ekek never die and never crack under pressure.
Pak Tjarda (02) dan Ibu Endang (04) tersenyum simpul dan merasa bangga ketika saya sampaikan bahwa gaya hidup beliau (nikah antar anggota) banyak diikuti oleh anggota sesudahnya, termasuk Komandan Panitia Ahya (18) dengan Wakil Komandan Esthi (19). Suasana sore dan malam hari di Posko Yon-I dulu memang romantis membuat banyak anggota yang berikrar untuk hidup bersama, disamping itu pacaran se-unit itu termasuk usaha yang bersifat “pahe=paket hemat”, Pak Tjarda dan Ibu Endang tersipu-sipu.
Gembira sekaligus kaget, ketika saya melihat kehadiran Pak Luluk Sumiarso (07) yang Dirjen di ESDM, dekat meja pendaftaran beliau sempat bilang “Saya hanya punya waktu sampai sore ini dan harus kembali ke Jakarta, tapi kesempatan untuk kumpul-kumpul seperti ini sayang sekali untuk dilewatkan, sukses buat panitia yaa” Tengkyu pak.
Sulit untuk dibayangkan tapi ini sungguh sebuah kenyataan ketika semuanya berkumpul mulai dari Ekek-1/1961 (Pak Haryono, Pak Soekirno) sampai Ekek Termuda 41/2007, ada perbedaan 40 angkatan dalam rentang waktu 46 tahun, aktualisasi sebuah perjalanan sejarah.
Makan siang sekaligus Ramah-Tamah Tahap-1 selesai, jam 14.00 WIB acara dilanjut dengan pameran foto, puluhan foto lama dalam ukuran besar terpajang rapih, disamping senang melihat foto-foto lama, ada juga yang menitikkan air mata, entah karena alasan apa .. tapi itu merupakan sebuah respon yang sangat manusiawi apabila diingatkan kembali kepada masa lalu. Dilapangan hijau yang luas dan apik, dalam kondisi cuaca cerah dan sejuk, sementara acara aneka lomba gembira buat anak-anak berlangsung, lalu ada pertandingan tarik-tambang yang seru antara Old Ekek vs Young Ekek, terbentuklah beberapa kelompok ngobrol-ngobrol, nostalgia dan Ramah-Tamah Tahap-2, penuh gelak-tawa, foto sana-foto sini. Tengkyu berat buat Bimo (28) atas sumbangan minuman Green Sand (yang zero alcohol) dalam jumlah yang sangat lumayan.
Menjelang jam 15.00 WIB, peserta berkumpul diruang Melati untuk diskusi Corps Menwa Yon-1, penuh atensi dari peserta, ruangan menjadi penuh .. mungkin ini juga merupakan acara Ramah-Tamah Tahap-3, kumpul-kumpul setiap saat dimana saja, acara dipandu oleh Mas Susilo (07), Ahya (18), Oetomo (24), Bimo (28), Anggun (Dan Yon) dan Enrico (Ekek Aktif) .. Dalam dikusi, ada kalimat yang menarik dari Pak Budiono Kartohadiprodjo (03) “Menjadi orang baik itu mudah, yang sulit adalah menjadi orang yang bermanfaat”, setuju banget pak ..logikanya, menjadi orang jahat tentu sangat mudah.
Diskusi ini bertujuan untuk Revitalisasi Yon-1 dimasa depan, dalam kondisi sekarang ini yang berada dibawah garis kemapanan, kurang perhatian dari ITB, termasuk tidak dapat bantuan anggaran tahunan, banyak kritikan dan sorotan negative dari warga ITB (mahasiswa dan dosen), kekurangan anggaran rutin dan biaya diksar, dsb. Trenyuh sekali rasanya ketika mengetahui bahwa animo mahasiswa/wi untuk mengikuti Diksar sangat menurun mulai dari tahun reformasi 1998 (7 orang), 1999 (7) bersamaan dengan dihentikannya Dana Bantuan Tahunan dari ITB, 2000 (7) bersamaan dengan Pencabutan SKB yang membuat kondisi makin parah, 2001 (5), 2002 (3), 2003 (3) .. sedih rek. Mulai tahun 2004, setelah program rebuilding corps dijalankan, maka peserta Diksar mencapai rata-rata 20an sd 30an setahun, itupun dengan sumber biaya dari “Saweran” dan peserta Diksar mendapat banyak peralatan latihan gratis. You know, sekarang ini jumlah Ekek Aktif terdaftar hanya 70 orang, yang aktif dikegiatan sekitar 40an. Padahal dizaman jayanya tahun 1960an satu kali Diksar pernah mencapai 3 Kompi atau sekitar 300an.
Diskusi yang berakhir pada jam 17.00 WIB mendapat banyak masukan positif dari peserta, yang kemudian dirangkum dalam suatu kesepakatan bersama yang diberi nama PRAKARSA SELABINTANA.
Menjelang akhir diskusi, hujan turun cukup deras, peserta pada gelisah dan bertanya .. Gimana nih rencana api unggun, renungan dan doa nanti malam ?? Dengan tenang Komandan Ahya menjawab .. kita sudah bekerjasama dengan pihak lain (pawing hujan) dalam melakukan sebuah upaya, mudah2an everything going well .. Dan memang, believe it or not, mulai jam 18.00 sampai besok siangnya .. langit bersih dan udara cerah, serta hujan pergi entah kemana.
Jam 19.00 WIB, ruang makan mulai dipenuhi anggota, makan malam sambil Ramah-Tamah Tahap-4, menu makanan cukup enak dan dalam jumlah yang sangat cukup, tengkyu berat buat Nining (23-Seksi Konsumsi) yang selalu berpikir dan bekerja keras untuk menjaga kestabilan urusan yang sangat pokok ini, suasana makan yang rame mirip pasar malam, stabil dengan kicauan suara dan kehebohan disana-sini. Selesai makan malam jam 19.45 WIB, acara pindah keruang atas, malam Ramah-Tamah-5 dan hiburan ..
Dimulai dengan sepatah kata Komandan Panitia dan memperkenalkan Anggota Panitia, ada Slide-show yang dipandu oleh Pak Tutun (03), ada hiburan dari Orgen Tunggal dan Penyanyi Lokal, serta lomba nyanyi antar angkatan yang dipandu olek Pak Sakti Tamat (03) yang ternyata juga seorang penyanyi tangguh, Pak Ichjar (02) yang kelihatan gagah Juara I Pria Senior, suara dan akting yang sangat mantap, seharusnya beliau dulu memiilih karir jadi penyanyi, lalu ada Esthi (19) sebagai Juara I Wanita Senior .. wanita yang memiliki berbagai kemampuan mengagumkan ..
Sebagai hasil diskusi disore hari, maka malam itu PRAKARSA SELABINTANA ditanda-tangani oleh para DanYon, Alumni Senior dan Pengurus, sebagai pedoman revitalisasi Yon-1 dimasa depan, ringkasannya kira-kira : Program jangka pendek dan panjang dibuat oleh Ekek Aktif dibimbing oleh Senior kemudian disosialisasikan kepada Anggota, kepada ITB dan kepada Pihak Terkait lainnya untuk mendapat dukungan moril dan materil
Pukul 22.15 WIB, peserta pindah kelapangan hijau terbuka, mengikuti acara Api Unggun, Renungan dan Doa, dalam kondisi langit cerah dan udara yang hangat tanpa embun, dibawah tenda disana sudah tersaji sejumlah cemilan lokal (ubi goreng, kacang rebus, bandrek, bajigur, dll.) serta top menu berupa 3 ekor kambing guling, 10 kg ikan mas bakar, rendang, dendeng balado, lontong dan nasi putih .. Saya sebagai supervisor konsumsi bersama Nining (panitia pelaksana) awalnya merasa sangat khawatir dengan jumlah konsumsi yang banyak pada acara ini, padahal jam 19.45 baru selesai makan malam .. apa yang terjadi ??
Suasana hati yang damai, pikiran yang terbuka serta udara yang sejuk membuat perut cepat lapar .. 3 ekor kambing guling beserta 10 kg ikan mas bakar hanya tinggal tulang-tulangnya, rendang dan dendeng balado nyaris ludes, apalagi bajigur dan bandrek, yang tersisa .. hanya cemilan lokal serta jagung baker, mungkin karena sudah terlalu kenyang.
Cukup mengagetkan, daging kambing guling yang “sedikit berbahaya” terutama bagi kelompok over seket (50 tahun keatas) ternyata sangat dinikmati oleh peserta senior .. mudah-mudahan ini sebuah pertanda kesehatan yang prima.
Ketika api unggun sedang menyala, dikelilingi ratusan peserta, Pak Edhi (02) memimpin Renungan dan Doa, dalam suasana yang sakral dan emosional, beliau menyampaikan puji syukur kehadirat Allah YMK, atas segala rakhmat dan karunia yang telah kita terima, memohon kepadaNYA agar diberikan kelapangan dan kemudahan kepada teman-teman kita yang sudah menghadap lebih dulu, renungan yang khidmat dan mengesankan. Api unggun memang dekat dengan keheningan dan alam, dekat dengan kerendahan hati, dan dekat dengan ketenangan serta kedamaian .. Malam itu sudah ada peserta yang pulang, people come and go, sesuai dengan ketersediaan waktu masing-masing, dengan membawa refreshing kenangan Yon-1 yang tetap terukir dihati dan lengket dikepala.
Hanya jagung bakar yang nasibnya kurang beruntung dan kurang peminat, 3 karung jagung yang telah disiapkan terpaksa menganggur didalam Tenda Peleton yang juga kosong, ada kelompok yang masih berdiskusi ditemani jagung baker, begitu juga dengan hasrat hati saya yang tadinya ingin tidur di Tenda Peleton terpaksa dibatalkan .. menjelang pukul 00.30 WIB, tidak ada orang yang tidur disana, pada kemana mereka … emangnya gue ingin tidur sendirian ditemanin jurig ??
Memang ada 2 tenda kecil disana yang dibawa peserta karena anak-anak mereka ingin sekalian berkemah. Saya terpaksa come back ke kamar hotel bergabung bersama Istri dan Anak. Tidur sekitar 4 jam, waktu terasa sangat cepat, mau mandi .. ?? Saya ingat emailnya Maria (20) yang kenyataannya benar, kalau water heater hotel Selabintana kurang handal, pagi itu terpaksa mandi dengan air dingin .. weeeeee, dinginnya mak …apa boleh buat acara mandi must go on, sebagai anggota corps menwa tidak boleh cengeng dan mudah mengeluh ..
Minggu, 27 Januari 2008
Jam 06.00 WIB ada informasi melalui pengeras suara, ada senam pagi dilapangan, cukup banyak pesertanya dengan semangat penuh, padahal tidurnya sudah larut malam .. saya terpaksa tidak ikut karena harus bantu Nining (09) mengatur makan pagi dengan pihak Hotel, ada nasi goreng, telor matasapi, ayam goreng, acar dan kerupuk udang, lalu .. Rendang dan Dendeng Balado (Hijau dan Merah) plus air putih, air jeruk, kopi dan The Panas, sebuah menu makan pagi yang sangat lumayan, pagi itu sejumlah peserta masih berdatangan untuk mengikuti acara yang tersisa.
Rencana trekking ke Curug Cibeureum terpaksa dibatalkan mendadak, karena malamnya ada informasi dari yang punya gawe (Kang Djandjan/07) bahwa sebagian rute trekking “longsor atau terkena longsoran”. However, no problem at all, cadangan acara teawalk didalam area kebun teh juga sangat menarik walaupun cukup melelahkan, ada sekitar 45 menit mengikuti jalan menanjak ~ 10o dijalan berbatu campur tanah dan rumput, dengkul terasa mau copot, tapi selalu ada semangat pantang menyerah, selain malu dengan Angkatan Senior yang tetap kelihatan fit dan tanpa masalah, juga malu kepada anak-anak yang kelihatan ceria, full of keringat dan ngos-ngosan tentunya, lalu .. ada persimpangan jalan, yang satunya masih lurus dan menanjak, sedangkan satunya lagi belok kiri menurun .. plong, rutenya ternyata mengikut jalan menurun selama 15 menit sebelum istirahat di Pondok Halimun dipinggir Kali Age .. alamak, air sungai yang dingin dan jernih, sangat segar pencuci muka dan keringat, suasana pegunungan yang hijau segar, ada green-sand kiriman Bima (28) yang juga tak kalah segar dan kotak snack yang jadi lebih enak, sungguh sebuah kenikmatan alamiah yang optimal mengikuti rute teawalk hasil desain Kang Djandjan (07) yang more than enough.. tengkyu pisan atuh akang.
Masih diperlukan sekitar 30 menit lagi menuju Hotel, melangkah dijalan setapak dilingkungan alam yang indah, nyaman karena tidak ada lagi tanjakan, perlu sedikit hati-hati agar tidak terpeleset dijalan tanah dan rumput yang cukup sempit dan licin .. sampai dihalaman belakang hotel, full of keringat. Ada anekdot dalam perjalanan ini, ketika kita lagi ngos-ngosan berjalan, seorang tukang baso dengan pikulan lengkapnya datang dari arah yang berlawanan, kita menurun dia mendaki .. dia tidak terlihat capek.
Dibelakang hotel, arena flying fox sudah siap, sekali terjun Rp. 10 ribu, cukup banyak penggemar dari anggota dan keluarga, termasuk Mas Hardjono (08) yang aslinya anggota penerjun bebas, kali ini dengan laporan lengkap mengawali peluncuran .. Lapor, Nama Hardjono Setiabudi, Nrp A-720024 siap untuk meluncur .. sekedar mengenang kembali kegiatan turun-tali dimasa lalu, ada suara lembut nyanyian dari Pak Yunus Situmorang (05) walaupun tidak didampingi Orgen. Sudah mendekati jam 11.00 WIB, ketika acara pagi itu ditutup dengan foto antar Angkatan, sebuah kenang-kenangan yang mahal tentunya, lalu pada beres-beres barang dikamar hotel, kemudian kembali berkumpul diruang makan siang ..
Saya dan nyonya merasa sangat berbahagia karena 6 box tupper ware yang berisi rendang dan dendeng hanya tersisa kotaknya untuk dibawa pulang, sedangkan 10 kg ikan mas bakar sudah ludes tadi malam, mudah-mudahan enak dan bermanfaat bagi semua peserta yang mencicipi. Juga sekalian buat uji coba, mana tahu bisa diandalkan pada masa pension nantinya.
Diruang makan, sejumlah merchandise tetap laris-manis, memang barang bagus sih … buat anggota Corps yang tidak berkesempatan datang, saya mendukung sekali jika anda mengoleksi sekaligus memakai merchandise yang sangat cihui tersebut, silahkan paksa Panitia untuk mengirimkan barang tersebut ketempat anda, setelah dibayar lunas tentunya. Waktu berjalan terasa sangat cepat, selesai makan siang, peserta pamit satu-persatu, pulang ketempat masing-masing membawa sejuta kenangan, sejuta kebahagiaan, semangat corps terasa sudah discharge lagi, badan boleh capek tapi hati dan pikiran terasa lapang dan nyaman .. Yaa Tuhan, betapa besar nikmat yang telah kau berikan pada kami.
Ada yang sangat menonjol dan terjaga dari peserta selama pelaksanaan kegiatan ini … disiplin waktu, disiplin acara, jarang mengeluh dan jarang protes serta penuh pengertian, selalu berbagi tugas dan kerja, tetapi tetap akrab dan ramah walaupun berbeda angkatan, satu peninggalan yang baik dari sebuah latihan militer. Khusus untuk Old Ekek (1 sd 4) yang umumnya memakai pakaian militer, hijau maupun loreng, terasa ada kebanggaan, yang ibu-ibu terlihat modis dan selalu gembira. Istri saya bilang, 10 tahun lagi papa juga seperti mereka itu, saya hanya menjawab .. Insyaallah.
Dilain pihak saya agak kaget plus kecewa ketika melihat seragam PDL Ekek Aktif, persis seperti pakaian anggota TNI AD tanpa pangkat, dulu .. dikrah baju PDL kita ada bordiran/tempelan tanda senioritas, silangan pena dan bedil serta garis merah/kuning/putih dikedua pinggirnya, .. Lebih sedih lagi melihat PDL DanYon (Anggun/39), didada kiri tidak ada emblim komandan (dulu warnanya kuning emas), dari seluruh PDL Ekek Aktif yang hadir, tidak ada satupun terlihat tanda wing didada, seperti wing terjun, menembak, dll .. apakah karena tidak punya kesempatan, atau tidak ada biaya, atau karena hal lain .. ?? Beda banget dengan sejumlah wing yang tersusun rapih dan gagah diseragam Pak Iwan Z.G. (05) atau Pak Aden (04) dizaman dulu.
Selama 2 hari tersebut saya bertemu lagi dengan teman lama, wajah-wajah yang sangat saya kenal sekitar 30 tahun yang lalu, sungguh membahagiakan .. antara lain Pak Aden (04), Kang Iftikar (08), Mas Hardjono (08), Kang Eddy V.D (08), Kang Iwan (09), Kang Dani (09), Kang Herman Sinsar (09), Bang Adamsyah (09), Uda Yos Rizal (09), Mas Wachju D (10) , Mas Anggit (10), Wiryawan (11, datang dari Tanjung Enim), Dudi Setiabudi (11), Trijoko (11, datang dari Yogyakarta), Tiena (11), dll. … masih ada keinginan yang belum kesampaian untuk bertemu dengan Pak Iwan Z.G. (05) dan Vera (11), Pak Priyo (08), Pak Krishna (08), Mbak Tya yang cakep (08), Kang Dadan (09), Uda Eddy Z.G (09), Uda Gustaf Ocim (09), Kang Samud (09), Mas Alex (10), Mbak Anna (10), Abadi (11), dll … mudah-mudahan pada kesempatan yang akan datang.
However, for sure .. saya merasa sangat beruntung dan makin kaya batin, baru nongol dimilis bulan September 2007, langsung larut dalam hangar-bingar HANATA-IV, makin banyak kenal wajah dan akrab dengan para senior dan yunior, rasanya dunia jadi lebih lapang dan lebih indah. Tapi, kok selalu terasa ada yang masih kurang .. Saya ingin punya Kartu Tanda Anggota Corps Elektronik, saya ingin punya Jaket Loreng Corps, yang didisain khusus buat semua anggota corps (yang berminat tentunya), karena saat ini tidak satupun ada tanda pengenal diri bahwa saya itu adalah Anggota Corps Yon-1, rasanya perlu kita pikirkan bersama untuk diwujudkan, ada komentar/saran .. ??
Menjelang pulang ke Bogor, salam-salaman sesama Panitia, ada ide dari Mas Susilo (07), Temu Corps selanjutnya ada baiknya dilaksanakan dipinggir pantai, seperti pantai Carita ? Menarik juga tuh sebagai wacana sangat awal. Sementara didalam ransel saya sudah menumpuk sekitar 75 lembar Data Isian Anggota untuk diproses, alahmdulillah .. ada kerjaan buat akhir minggu.
Akhirulkalam, kalau ada yang kurang dalam laporan ini, mohon teman-teman yang hadir untuk melengkapi. Kalau ada kata2 yang keliru .. maafkan saya dengan sepenuh hati yaa.
wassalam
irzalsulaini SI76
Ekek XI/A-760026
Tentang FOTO :
Walaupun saya bisa mengambil foto sekitar 100 anggota (untuk persiapan Direktori Yon-1), saya tetap merasa bersedih karena tidak bisa mengambil semuanya, padahal ini kesempatan yang sangat baik, kemampuan digital camera saya memang segitu, sayangnya tidak bisa dikosongkan karena tidak ada fasilitas internet di Selabintana, saya juga ragu untuk nyimpan file foto di lap-top panitia ..
Saya sangat berharap bisa dapat share foto dari Beta (Ekek 30) yang aktif ngambil foto atau teman-teman yang ngambil foto, nanti hasil fotonya bisa di crops. Bagi teman-teman yang ngambil foto acara demi acara silahkan dirilis dimilis.
Detik Detik Bersejarah Penandatangan Prakarsa Selabintana - Kesepakatan Bersama Corps YON 1 Untuk Membangun Kembali YON1

Dengan latar belakang sebagai berikut :
1. Menyalakan api semangat kejuangan Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB.
2. Membangun kembali (rebuilding), meningkatkan (improving) serta mempertahankan secara berkesinambungan (sustaining) Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB.
3. Memberdayakan Corps Alumni sebagai sistem pendukung utama (support system) Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB;
Maka, KAMI segenap Corps Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB, berkomitmen utk :
1. Memperbaiki organisasi dan mewujudkan dukungan birokrasi bagi Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB; melalui :
a. Peningkatan nilai tambah (added value) Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB bagi mahasiswa dan civitas akademika kampus ITB.
b. Aplikasi workshop/seminar/kursus/diskusi dari Corps bagi anggota Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB khususnya dan mahasiswa ITB pada umumnya.
c. Perbaikan intangible value untuk meningkatkan kemampuan perencanaan, pelaksanaan, serta pengabdian untuk membangun kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang bermartabat.
d. Memfasilitasi keterkaitan Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB sebagai bagian dari security system di Kampus ITB.
2. Melakukan standardisasi sistem pelatihan dan pendidikan Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB; melalui :
a. Pemanfaatan kompetensi untuk kepentingan anggota serta organisasi Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB, maupun kepentingan nasional.
b. Memperbanyak pelatihan mandiri tanpa kehilangan nilai-nilai positif yang ada ataupun pernah ada, melalui transfer pengetahuan antara Corps dengan anggota aktif Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB.
c. Membantu Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB untuk melakukan transfer of knowledge dari senior ke junior secara berkesinambungan.
d. Membantu Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB untuk menyelenggarakan Rapat Dinas yang membahas secara detail arah dan kebijakan Batalyon kedepan (Jenjang pendidikan, kepangkatan, seragam, baret, dll)
e. Melakukan re-branding kompetensi profile MAHAWARMAN yang ideal yang mengakomodasi kepemimpinan, pengetahuan bela negara, dan petualangan.
f. Mendetinisikan ulang manfaat bergabung dan berlatih di Mahawarman untuk menghasilkan intangible values, misalnya : peningkatan kualitas pribadi, keteladanan, pengabdian, can do spirit, never crack under pressure, good citizenship, dll.
3. Memfasilitasi dan mendanai kebutuhan Markas Komando(Mako) serta pelatihan dan pendidikan di dalam organisasi Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB; melalui :
a. Pembangunan Posko/Mako yang representatif dan membanggakan bagi anggota dan Alumni.
b. Mendukung proses perawatan (maintenance) peralatan serta sarana prasarana yang dimiliki Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB.
c. Menyumbang rutin secara bulanan guna keperluan Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB, baik melalui program autodebet ataupun melalui donasi secara langsung, baik berupa materiil (dana ataupun barang) maupun immateriil.
d. Komitmen pembiayaan kegiatan Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB serta sumbang ide dan saran.
e. Mengelola ketergantungan dengan pihak-pihak lain dengan baik dengan segala keterbatasan yang dimiliki.
4. Melakukan perbaikan aspek legal di tingkat kampus, nasional maupun internasional; melalui :
a. Usaha-usaha mendukung undang-undang serta peraturan pemerintah yang kondusif untuk perkembangan aspek Bela Negara nasional pada umumnya serta Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB pada khususnya.
b. Pengelolaan secara baik, hubungan antara Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB serta pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB.
c. Upaya terus menerus legalisasi pendidikan dan latihan di Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB sebagai latihan yang dapat memenuhi kwalitikasi sebagai bagian dari CADNAS.
d. Melakukan lobi-lobi ke DPR-RI untuk realisasi PILOT Project Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB sebagai konsekuensi RUU CADNAS.
Prakarsa ini akan dijadikan dasar dalam mendukung setiap inisiatif Corps Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB dalam berkontribusi kepada Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon I / ITB, almamater ITB dan bangsa Indonesia.

Selasa, 29 Januari 2008
Kesan dan pesan Maria dan ' wejangan' dari panitia sebelumnya, kang Iwan Munajat
From: anggota-bounce@mahawarman.net [mailto:anggota-bounce@mahawarman.net] On Behalf Of iwan munajatSent: 30 Januari 2008 13:29To: anggota@mahawarman.netSubject: [anggota] Re: Thanks to you all.. Re: Re: The Activist Hanata 2008 - kang Djan Djan
Dear Esthi,
Sebenarnya yang paling banyak mengalami nostalgia sehingga meninggalkan kesan yang dalam adalah yang dialami panitia sendiri. Rasanya seperti dilempar kembali ke masa 15 – 20 tahun silam sewaktu kita semua masih di posko masih belum punya apa-apa dan belum jadi apa-apa. Ada masa-masa kegilaan dengan segala ide, kecemasan, tantangan, kerja –sangat- keras sehingga lupa makan-minum- tidur tapi juga ada saat-saat indah yang berkesan sangat manis dan dalam. Pameo “Never Crack Under Pressure” bener-bener terjadi kan.
Satu hal yang sangat saya kagumi dari panitia sekarang adalah menyatunya semua angkatan dari yang paling tua sampai yang paling muda sehingga menjadi tim yang tangguh. Di Selabintana masih juga ada yang pakai kaos ex hanata Jatiluhur yang tulisannya “ I am proud to be Mahawarman” dan memang hal itu yang ada di hati sampai saat ini. Saya bangga - karena acara HANATA saya bisa mengenal karakter sosok manusia - seperi Mas Susilo, Pak Priyo, Pak Indrajaya, Kang Djandjan, Kang Dani, Abah Rama, Pak Aden, Kang Teddy Kardin, Om Joe Wardi dan keluarga, Pak Boediono, Kang Tutun, Pak Mommi dll yang menjadi senior saya dan saya juga bangga bisa mengenal Bima, Enrico, Nomo dll yang lebih mudah tetapi sudah menunjukkan Karakter Unggulan sebagai sebuah Pribadi yang tangguh. Semoga makin Jaya Corps Batalyon 1 – ITB sekarang dan seterusnya.
Dengan suksesnya Hanata4 – selabintana maka Hal ini semua menjadi sebuah tantangan untuk panitia inti hanata berikutnya (angkatan 20 – 25) dimana kita ingin sekali melihat perwujudan dari “PRAKARSA SELABINTANA” yang bejibun gitu. Semoga oleh Allah swt kita masih diberi umur panjang dan kesehatan sehingga bisa bertemu kembali. See u all in January 2010.
-im
From: anggota-bounce@mahawarman.net [mailto:anggota-bounce@mahawarman.net] On Behalf Of maria.abdulkadir@asia.bnpparibas.comSent: Wednesday, January 30, 2008 1:36 PMTo: anggota@mahawarman.netSubject: [anggota] Thanks to you all.. Re: Re: The Activist Hanata 2008 - kang Djan Djan
Setuju, Esthi. Terima kasih banyaaaak..... banget untuk Kang Djan-djan atas segala susah payahnya untuk HANATA IV ini. Kang Djan-djan tuh selalu kalem, selalu tenang, dan yakin bahwa Temu Corps ini bisa berjalan dengan baik... sangat menenangkan panitia...at least, menenangkan saya :-)), juga untuk Mas Susilo (yang dengan tanpa putus asanya 'maksa' saya untuk ikut dalam kepanitiaan Selabintana, walaupun saya selalu nolak dan bilang 'gak ada waktu lho Mas...' sampai akhirnya 'luluh' juga... :-)), Mas Djoni Saleh (yang dengan tanpa banyak omong tiba-tiba sudah transfer dana donatur puluhan juta di rekening BCA... surprise...surprise... :-)), Mas Indradjaja (yang selalu penuh perhatian dan memberi semangat kita-kita..), Uda Irzal (duh..... kalau ingat Uda yang satu ini.... nyeseeeel.....banget! gak sempet mencicipi hasil masakannya yang -kata semua orang- te-o-pe be-ge-te.... :-(.... Bang Syafril (yang selalu berusaha bantu panitia dengan segala broadcast infonya.... walaupun sempat bikin saya trauma liat HP...hehe....), Mas Mukhsin Moechtar dan Mas Bima (atas snack Indofood & Green Sand-nya) dan pastinya banyaaaak.... lagi senior saya dan alumni lainnya yang banyak membantu hingga terlaksananya reuni kemarin. Dan, terima kasih banyak pula untuk para anggota aktif yang dimotori oleh Yoga, Anggun dan Rico (yang katanya belum laku-laku... :-)). Seperti kata Wadantim Esthi... acara gak akan berlangsung mulus tanpa turun tangannya adik-adik tercinta ini.... Buat panitia..... thanks berat atas kerja sama rekan-rekan semua.... Sumprit, saya enjoy banget atas kekompakan kita lhooo.....! Dan... terrrrakhiiir..... terima kasih banyak kepada para peserta (Kang Tutun, Mas Jo Wardi, Mas Nono, Mas Momi.... sampai ke angkatan muda: Mas Tomo, Mas Bima,.....) yang telah mengikuti segala acara yang telah kami susun (dengan segala kekurangannya) dengan begitu antusias....! Rasanya segala lelah, bete, waswas....yang timbul sebelum, menjelang, dan selama acara berlangsung HILANG tanpa sisa karenanya! Salam, Maria NB: saya gunakan sapaan 'Mas, Kang, Uda, Bang' .... yang (menurut saya) lebih 'pas' dan menggambarkan kedekatan kita. Semoga tidak ada yang berkeberatan...
Dear Esthi,
Sebenarnya yang paling banyak mengalami nostalgia sehingga meninggalkan kesan yang dalam adalah yang dialami panitia sendiri. Rasanya seperti dilempar kembali ke masa 15 – 20 tahun silam sewaktu kita semua masih di posko masih belum punya apa-apa dan belum jadi apa-apa. Ada masa-masa kegilaan dengan segala ide, kecemasan, tantangan, kerja –sangat- keras sehingga lupa makan-minum- tidur tapi juga ada saat-saat indah yang berkesan sangat manis dan dalam. Pameo “Never Crack Under Pressure” bener-bener terjadi kan.
Satu hal yang sangat saya kagumi dari panitia sekarang adalah menyatunya semua angkatan dari yang paling tua sampai yang paling muda sehingga menjadi tim yang tangguh. Di Selabintana masih juga ada yang pakai kaos ex hanata Jatiluhur yang tulisannya “ I am proud to be Mahawarman” dan memang hal itu yang ada di hati sampai saat ini. Saya bangga - karena acara HANATA saya bisa mengenal karakter sosok manusia - seperi Mas Susilo, Pak Priyo, Pak Indrajaya, Kang Djandjan, Kang Dani, Abah Rama, Pak Aden, Kang Teddy Kardin, Om Joe Wardi dan keluarga, Pak Boediono, Kang Tutun, Pak Mommi dll yang menjadi senior saya dan saya juga bangga bisa mengenal Bima, Enrico, Nomo dll yang lebih mudah tetapi sudah menunjukkan Karakter Unggulan sebagai sebuah Pribadi yang tangguh. Semoga makin Jaya Corps Batalyon 1 – ITB sekarang dan seterusnya.
Dengan suksesnya Hanata4 – selabintana maka Hal ini semua menjadi sebuah tantangan untuk panitia inti hanata berikutnya (angkatan 20 – 25) dimana kita ingin sekali melihat perwujudan dari “PRAKARSA SELABINTANA” yang bejibun gitu. Semoga oleh Allah swt kita masih diberi umur panjang dan kesehatan sehingga bisa bertemu kembali. See u all in January 2010.
-im
From: anggota-bounce@mahawarman.net [mailto:anggota-bounce@mahawarman.net] On Behalf Of maria.abdulkadir@asia.bnpparibas.comSent: Wednesday, January 30, 2008 1:36 PMTo: anggota@mahawarman.netSubject: [anggota] Thanks to you all.. Re: Re: The Activist Hanata 2008 - kang Djan Djan
Setuju, Esthi. Terima kasih banyaaaak..... banget untuk Kang Djan-djan atas segala susah payahnya untuk HANATA IV ini. Kang Djan-djan tuh selalu kalem, selalu tenang, dan yakin bahwa Temu Corps ini bisa berjalan dengan baik... sangat menenangkan panitia...at least, menenangkan saya :-)), juga untuk Mas Susilo (yang dengan tanpa putus asanya 'maksa' saya untuk ikut dalam kepanitiaan Selabintana, walaupun saya selalu nolak dan bilang 'gak ada waktu lho Mas...' sampai akhirnya 'luluh' juga... :-)), Mas Djoni Saleh (yang dengan tanpa banyak omong tiba-tiba sudah transfer dana donatur puluhan juta di rekening BCA... surprise...surprise... :-)), Mas Indradjaja (yang selalu penuh perhatian dan memberi semangat kita-kita..), Uda Irzal (duh..... kalau ingat Uda yang satu ini.... nyeseeeel.....banget! gak sempet mencicipi hasil masakannya yang -kata semua orang- te-o-pe be-ge-te.... :-(.... Bang Syafril (yang selalu berusaha bantu panitia dengan segala broadcast infonya.... walaupun sempat bikin saya trauma liat HP...hehe....), Mas Mukhsin Moechtar dan Mas Bima (atas snack Indofood & Green Sand-nya) dan pastinya banyaaaak.... lagi senior saya dan alumni lainnya yang banyak membantu hingga terlaksananya reuni kemarin. Dan, terima kasih banyak pula untuk para anggota aktif yang dimotori oleh Yoga, Anggun dan Rico (yang katanya belum laku-laku... :-)). Seperti kata Wadantim Esthi... acara gak akan berlangsung mulus tanpa turun tangannya adik-adik tercinta ini.... Buat panitia..... thanks berat atas kerja sama rekan-rekan semua.... Sumprit, saya enjoy banget atas kekompakan kita lhooo.....! Dan... terrrrakhiiir..... terima kasih banyak kepada para peserta (Kang Tutun, Mas Jo Wardi, Mas Nono, Mas Momi.... sampai ke angkatan muda: Mas Tomo, Mas Bima,.....) yang telah mengikuti segala acara yang telah kami susun (dengan segala kekurangannya) dengan begitu antusias....! Rasanya segala lelah, bete, waswas....yang timbul sebelum, menjelang, dan selama acara berlangsung HILANG tanpa sisa karenanya! Salam, Maria NB: saya gunakan sapaan 'Mas, Kang, Uda, Bang' .... yang (menurut saya) lebih 'pas' dan menggambarkan kedekatan kita. Semoga tidak ada yang berkeberatan...
Doorprize nya kemana? - tanya pak Iwan :) - ucapan selamat dari pak Iwan Munajad
From: esthi [mailto:esthi@rekayasa.co.id] Sent: 30 Januari 2008 8:37To: 'anggota@mahawarman.net'Subject: RE: [anggota] Re: SELAMAT ATAS SUKSESNYA ACARA HANATA SELABINTANA
Pak Iwan, asik ya bakar jagung ampe dini hari J
Salut, masih ada energi sampai selarut itu..
Oh ya, doorprize adalah blessing in disguise nya mako..karena semua udah dihibahkan ke mako :) ( Cuma dikit kok, dan semoga bisa bermanfaat buat adik2 di mako )
Rgds
From: anggota-bounce@mahawarman.net [mailto:anggota-bounce@mahawarman.net] On Behalf Of iwan munajatSent: 30 Januari 2008 8:33To: anggota@mahawarman.netSubject: [anggota] Re: SELAMAT ATAS SUKSESNYA ACARA HANATA SELABINTANA
Oetomo.
- Api unggun masih tetap menyala sampai jam 3 an karena masih ada sekitar 7-8 orang spt Kristiono, Taufik, Pak Aden, Sentot, Saya sendiri, Mas Syafril, Braid SP .. eh siapa lagi yaaaa poho euy tapi jagung bakarnya juga menemani kami terus.
- Tenda peleton kosong melompong tapi ada beberapa tenda yang ada isinya dengan beberapa pasang jepit parkir diluarnya.
- Senam Pagi …. Ada cerita nih. Jam 6-an saya keluar kamar pas buka pintu papasan dengan anggota muda yon 1 lengkap dengan PDLnya. Dia langsung Tanya … “Pak ngga ikut senam pagi ?” saya langsung jawab “Yah.. saya baru selesai”…he..he..he…dia bengong mungkin ngga ngerti apa maxudnya yah.
- Saya sempat menjelaskan alat water sanitation ini pada beberapa orang karena kebetulan saya tahu operasionalnya sewaktu gempa Bantul. Saya lihat meraka cukup terkesan dan baru tahu bahwa orang-orang Yon-1 lah yang mengoperasionalkannya di lapangan.
- Door Prize … wah kemana tuh ??
Untik Panitia, selamat yah. Sukses.
-im
Pak Iwan, asik ya bakar jagung ampe dini hari J
Salut, masih ada energi sampai selarut itu..
Oh ya, doorprize adalah blessing in disguise nya mako..karena semua udah dihibahkan ke mako :) ( Cuma dikit kok, dan semoga bisa bermanfaat buat adik2 di mako )
Rgds
From: anggota-bounce@mahawarman.net [mailto:anggota-bounce@mahawarman.net] On Behalf Of iwan munajatSent: 30 Januari 2008 8:33To: anggota@mahawarman.netSubject: [anggota] Re: SELAMAT ATAS SUKSESNYA ACARA HANATA SELABINTANA
Oetomo.
- Api unggun masih tetap menyala sampai jam 3 an karena masih ada sekitar 7-8 orang spt Kristiono, Taufik, Pak Aden, Sentot, Saya sendiri, Mas Syafril, Braid SP .. eh siapa lagi yaaaa poho euy tapi jagung bakarnya juga menemani kami terus.
- Tenda peleton kosong melompong tapi ada beberapa tenda yang ada isinya dengan beberapa pasang jepit parkir diluarnya.
- Senam Pagi …. Ada cerita nih. Jam 6-an saya keluar kamar pas buka pintu papasan dengan anggota muda yon 1 lengkap dengan PDLnya. Dia langsung Tanya … “Pak ngga ikut senam pagi ?” saya langsung jawab “Yah.. saya baru selesai”…he..he..he…dia bengong mungkin ngga ngerti apa maxudnya yah.
- Saya sempat menjelaskan alat water sanitation ini pada beberapa orang karena kebetulan saya tahu operasionalnya sewaktu gempa Bantul. Saya lihat meraka cukup terkesan dan baru tahu bahwa orang-orang Yon-1 lah yang mengoperasionalkannya di lapangan.
- Door Prize … wah kemana tuh ??
Untik Panitia, selamat yah. Sukses.
-im
Sajak dari pak Ahya Rusdi - Team Commander of Hanata IV
Dear Esthi,Please, do upload this poem into our blog !!!!! Really excellent !Thanks,Nono
----- Original Message -----From: "Ahya Rusdi" To: "anggota@mahawarman.net" Subject: [anggota] MERINDUKAN LORENGDate: Wed, 30 Jan 2008 01:08:59 +0700
Mengukir kenangan di Selabintana
Terpupuk akrab silaturahmi
Menghaturkan maaf dari Panitia
Bila ada rasa tak senang di hati.
Panjang sejarah perjuangan Bangsa
Dikenang renungan di malam sepi
Tercetuslah Prakarsa Selabintana
Buah rindu kejuangan abadi
Tidur nyenyak di kamar Seruni
Bangun pagi sarapan nasi goreng
Gagah perwira para alumni
Apalagi memakai seragam loreng
Burung Elang burung tekukur
Ekek terbang melayang-layang
Walau hayat telah terkubur
Semangat Corps tak pernah hilang
Temu Corps Yon I di Selabintana
Merajut kembali nostalgia lama
Kurindukan kembali acara serupa
Bagai minum tatkala dahaga
BRAVO YON I !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Ahya
----- Original Message -----From: "Ahya Rusdi" To: "anggota@mahawarman.net" Subject: [anggota] MERINDUKAN LORENGDate: Wed, 30 Jan 2008 01:08:59 +0700
Mengukir kenangan di Selabintana
Terpupuk akrab silaturahmi
Menghaturkan maaf dari Panitia
Bila ada rasa tak senang di hati.
Panjang sejarah perjuangan Bangsa
Dikenang renungan di malam sepi
Tercetuslah Prakarsa Selabintana
Buah rindu kejuangan abadi
Tidur nyenyak di kamar Seruni
Bangun pagi sarapan nasi goreng
Gagah perwira para alumni
Apalagi memakai seragam loreng
Burung Elang burung tekukur
Ekek terbang melayang-layang
Walau hayat telah terkubur
Semangat Corps tak pernah hilang
Temu Corps Yon I di Selabintana
Merajut kembali nostalgia lama
Kurindukan kembali acara serupa
Bagai minum tatkala dahaga
BRAVO YON I !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Ahya
Yang ini jangan pernah dilupakan - Steering Comittee yang selalu setia mengawal Panitia - foto kiriman kang Nono
..Dan untuk beliau yang satu ini saya speechless...Pak Susilo...saya banyak belajar dari Bapak...Yang paling berkesan adalah bagaimana cara beliau memberikan apresiasi kepada orang yang telah membantu kita..Pada saat menjelang api unggun dengan segala macam hidangan a la gunung itu beliau sempat mengingatkan saya untuk mengajak crew organ tunggal dan gendang lengkap dengan penyanyi, pemusik dan teknisi nya untuk ikut menikmat segala hidangan yang melimpah ruah di seputaran tenda pleton itu..Syukurlah saya diingatkan oleh beliau..Dan saat beliau hendak pulang, beliau menyempatkan ke sekretariat untuk memberi apresiasi kepad panitia dan adik2x anggota aktif yang membantu...juga mengingatkan untuk memberikan souvenir kepada Ibu Lella, pihak manajemen hotel Selabintana dan pak Djaenuddin, pelaksana opersional hotel yang memantau dan membantu kelancaran acara ini ...
Thx pak Sus, tidak menyesal saya menerima perintah Bapak untuk merayu pak Ahya jadi Danteam dan saya membantunya...Terima kasih dan Salam dari kami Panitia semua
Rgds
Esthi ( xix )
Kesan dan pesan kang Nono - ditulis setiba di rumah Minggu 27 Januari 2008 malam
Saya mengucapkan Selamat dan Terima Kasih atas terselenggaranya acara Hanata IV di Salabintana pada hari Sabtu dan Minggu 26-27 Januari 08.
Mulai dari keberangkatan bersama rombongan dari Jakarta dimana saya bergabung sampai dengan tiba di Salabintana dengan berbagai variasi acaranya berlanjut sampai dengan selesainya acara dan kembali ke Jakarta, tidak satupun ada hal yang mengecewakan diri saya. Saya telah menikmati semuanya dengan wajar dan menggembirakan.
Saya tidak bisa menyebutkan nama satu persatu dari penyelenggara acara tetapi dari beberapa fotos bersama ini, terlihat sebagian diantara mereka yang patut memperoleh penghargaan, tanpa mengurangi penghargaan juga bagi mereka yang fotonya tidak tercantum.
Semoga kekompakan ini selalu terjalin dari waktu ke waktu dan mewujudkan kelangsungan tanpa henti eksistensi Yon I Mahawarman ITB.
Aboejoewono Aboeprajitno
Mulai dari keberangkatan bersama rombongan dari Jakarta dimana saya bergabung sampai dengan tiba di Salabintana dengan berbagai variasi acaranya berlanjut sampai dengan selesainya acara dan kembali ke Jakarta, tidak satupun ada hal yang mengecewakan diri saya. Saya telah menikmati semuanya dengan wajar dan menggembirakan.
Saya tidak bisa menyebutkan nama satu persatu dari penyelenggara acara tetapi dari beberapa fotos bersama ini, terlihat sebagian diantara mereka yang patut memperoleh penghargaan, tanpa mengurangi penghargaan juga bagi mereka yang fotonya tidak tercantum.
Semoga kekompakan ini selalu terjalin dari waktu ke waktu dan mewujudkan kelangsungan tanpa henti eksistensi Yon I Mahawarman ITB.
Aboejoewono Aboeprajitno
Trio old ekek - never die : Irzal / Budi Nirwanto/Indra Djauhari - kiriman kang Nono
Rgds
Ahya & Esthi
The Support fron Batalyon 1 - Commander Anggun Faridza n activist Enrico Aryaguna - kiriman kang Nono
Thank you YON 1 , the young and active ekeks under commander Anggun Faridza and activist Enrico Aryaguna, the previous commander Andi Yoga, Reni, Dewi, Tya, Dina, Ditya, Dino, Galuh, Febi, Andri, Ridho, Bahtera Aji, Haris,....n many others name I cannot memorize all of you..
But for sure, thanks for all your supports at Hanata IV, without it we are nothing...
Keep on learning aan sharing...Enjoy your time at YON 1, the time that will not come twice!
Bravo YON 1!
Rgds
Ahya & Esthi
Ahya and the bebenyit - kiriman kang 22N
After 23 years - kiriman bang Irzal Sulaini
Dear Maria dan mas Budi Nirwanto,Entah apa yang dimaksud Uda Irzal dengan judul foto After 23 years :).
Adakah foto lama saat LCR ( Landing Craft Rubber ) berlabuh di pantai Eretan dengan Maria muda menarik kayuh menjadi saksi bisu apa yang bergolak di dada sang pelatih saat icuuu ( yang abadi tenggelam di dasar hati ) ??? Wallahu alam bisawwab :)..Namun yang pasti, tanpa usaha keras anda berdua Hanata IV tidak akan ada ...
Thank you guys...U 2 are the bests!
Rgds
Ahya & Esthi
Ahya & Esthi - Kiriman kang Nono
The Activist of Hanata 2008 - kang Djan Djan

Dear kang Djan Djan...
May leaves are falling when the breeze is coming...
May sun set while the day is done ...
May our skin aging when the years are passing...
Yet your spirit is still here with us...
And your supports is always meaningful for us...
Thank you kang Djanaka...
Without you we'll be falling a part...
Panitia Hanata IV/Temu Corps Yon 1 26-27 Januari 2008
poem by : Esthi T Bhirawati ( XIX ) - wadanteam
Ucapan selamat dari sahabat di Qatar - Asep Edi Suprihatna nu bageur tea :)
Assalaamu'alaikum,
WDCS,
SELAMAT kepada seluruh panitia yang telah sukses menyelenggarakan acara dengan sukses besar.
Saya yakin acara tsb sangat berkesan bagi seluruh panitia dan peserta.
Walaupun hanya menyaksikan dari e-mail dan foto saja, tapi saya merasa sangat senang dan bangga jadi anggota ekek.
Apalagi jika dapat hadir, pasti akan lebih menyenangkan dan membahagiakan.
Saya salut dan bangga kepada pasangan serasi dan abadi serta apik para sahabat saya-Ahya Rusdi dan Esti.
Teman2 satu Kompie Asep PH, Teddy Nugraha, Saifullah, Epsi (Dankie) dkk serta seluruh tim panitia anggota ekek.
Sekarang pasti dapat tidur dengan nyenyak dan tersenyum setelah berpikir dan bekerja sekuat tenaga, siang malam.
SALUT, SELAMAT dan SUKSES
Wassalam,
Asep E. Suprihatna
Ekek - 19
Doha - Qatar
WDCS,
SELAMAT kepada seluruh panitia yang telah sukses menyelenggarakan acara dengan sukses besar.
Saya yakin acara tsb sangat berkesan bagi seluruh panitia dan peserta.
Walaupun hanya menyaksikan dari e-mail dan foto saja, tapi saya merasa sangat senang dan bangga jadi anggota ekek.
Apalagi jika dapat hadir, pasti akan lebih menyenangkan dan membahagiakan.
Saya salut dan bangga kepada pasangan serasi dan abadi serta apik para sahabat saya-Ahya Rusdi dan Esti.
Teman2 satu Kompie Asep PH, Teddy Nugraha, Saifullah, Epsi (Dankie) dkk serta seluruh tim panitia anggota ekek.
Sekarang pasti dapat tidur dengan nyenyak dan tersenyum setelah berpikir dan bekerja sekuat tenaga, siang malam.
SALUT, SELAMAT dan SUKSES
Wassalam,
Asep E. Suprihatna
Ekek - 19
Doha - Qatar
Kisah yang lain - T....Girang - kiriman kang 22N
Ini cerita trekking yang lain.Waktu jaman kita aktif di Batalyon, semua pasti kenal istilah 'T...... Girang'. Waktu jalan balik dari Pondok Halimun turun ke arah hotel, kita para Ekek Tuwa nemuin satu tempat yang dengan papan nama ' . . . . . Girang'. Djoni yang pertama nunjuk, itu ada '. . . Girang'. Mendadak semua jadi 'girang' lagi . . . dan sambil bernostalgia jaman baheula kita berpose didepannya. Ada beberapa Ekek muda yang pas barengan jalan, ikut juga berfoto ria, sambil ga ngerti kok Ekek tua ini begitu ke'girang'an.
Kayanya banyak yang luput gak perhatikan adanya tempat ini.
Salam,
Tutun - 3
Kang Djan Djan's Press Conference - Kenapa gak jadi trekking ke Curug Cibeureum ?
Rekan2,
Sangat ter-upahi (maaf bahasanya gak baik) membaca cerita mas Jo ini. Serasa ikut menelusuri jalan ke lokasi air terjun Curug Cibeureum. Soalnya sejak survey pertama, terus terang saya sangat ingin ada acara trekking ke Curug Cibeureum itu. Survey pertama saya hanya sampai ke Pondok Halimun. Dan saat itu saya berharap bahwa menelurusi jalan ke curug bisa nanti saja pada saatnya.
Pada malam saat makan saya dilapori oleh mas Jose (WaDan Tim Trekking) yg mengatakan bahwa dari hasil surveynya bersama beberapa anggota Yon I pada sore itu, dia melihat jalanan ke Curug licin sekali dan dengan tanjakan yg curam dia hawatir akan banyak peserta yg akan jatuh.
Saya tanya apakah sudah dilaporkan ke Ketua Panitia ?
Rupanya mas Jose secara berjenjang lapor lebih dahulu ke Penanggung Jawab Acara.
Saya diskusikan hal itu sama rekan2 Panitia lainnya, termasuk seksi2 lain yg mungkin akan terkait apabila dilakukan perubahan acara.
Saat kami belum mengambil keputusan (karena Keputusan harus diambil oleh Ketua Panitia), ternyata Pa Ketua sudah mengumumkan tentang acara trekking sesuai seperti rencana semula. Waduh............!!
Agak lama juga saya "merenungkan" langkah apa yg harus diambil, karena ini menyangkut keselamatan banyak orang (dan orang2 penting pula....!!).
Saya jadi ingat waktu ikut Citarum Rally (lomba rafting Perahu Karet disungai Citarum) pada tahun 1975 dimana terjadi korban 7 orang meninggal. Waktu itu Panitia tidak berani memutuskan utk menunda acara lomba sekalipun tahu bahwa sungai Citarum pada saat akan start dalam keadaan banjir besar, dan berbahaya sekali.
Akhirnya saya yakinkan mas Ahya, sang Ketua Panitia, bahwa acara trekking harus dibatalkan. Beliau kelihatan kecewa seperti sayapun kecewa karena tidak bisa melihat Curug Cibeureum seperti yg saya harapkan sejak survey pertama.
Saya yakinkan bahwa seksi2 terkait sudah disiapkan utk menerima perubahan acara, tinggal keputusan dari Bapak Ketua.
Akhirnya Bapak Ketua setuju utk dibatalkan acara trekking dan dialihkan ke acara jalan2 di kebun teh (tea walk). Rute-pun disesuaikan, yg semula finish di Pondok Halimun, dirubah menjadi finish di hotel kembali.
Perubahan ini semula akan diumumkan oleh Ketua Panitia sendiri, tetapi setelah ada masukkan dari mas Joni (yg minta didramatisir dengan cerita adanya longsor), maka pa Ketua minta saya utk mengumumkannya.
Demikian sekelumit perubahan acara yg ternyata menyelamatkan kita semua dan di-nyatakan keputusan yg tepat oleh mas Jowardi, pakar trekking kita.
Wassalam.
Sangat ter-upahi (maaf bahasanya gak baik) membaca cerita mas Jo ini. Serasa ikut menelusuri jalan ke lokasi air terjun Curug Cibeureum. Soalnya sejak survey pertama, terus terang saya sangat ingin ada acara trekking ke Curug Cibeureum itu. Survey pertama saya hanya sampai ke Pondok Halimun. Dan saat itu saya berharap bahwa menelurusi jalan ke curug bisa nanti saja pada saatnya.
Pada malam saat makan saya dilapori oleh mas Jose (WaDan Tim Trekking) yg mengatakan bahwa dari hasil surveynya bersama beberapa anggota Yon I pada sore itu, dia melihat jalanan ke Curug licin sekali dan dengan tanjakan yg curam dia hawatir akan banyak peserta yg akan jatuh.
Saya tanya apakah sudah dilaporkan ke Ketua Panitia ?
Rupanya mas Jose secara berjenjang lapor lebih dahulu ke Penanggung Jawab Acara.
Saya diskusikan hal itu sama rekan2 Panitia lainnya, termasuk seksi2 lain yg mungkin akan terkait apabila dilakukan perubahan acara.
Saat kami belum mengambil keputusan (karena Keputusan harus diambil oleh Ketua Panitia), ternyata Pa Ketua sudah mengumumkan tentang acara trekking sesuai seperti rencana semula. Waduh............!!
Agak lama juga saya "merenungkan" langkah apa yg harus diambil, karena ini menyangkut keselamatan banyak orang (dan orang2 penting pula....!!).
Saya jadi ingat waktu ikut Citarum Rally (lomba rafting Perahu Karet disungai Citarum) pada tahun 1975 dimana terjadi korban 7 orang meninggal. Waktu itu Panitia tidak berani memutuskan utk menunda acara lomba sekalipun tahu bahwa sungai Citarum pada saat akan start dalam keadaan banjir besar, dan berbahaya sekali.
Akhirnya saya yakinkan mas Ahya, sang Ketua Panitia, bahwa acara trekking harus dibatalkan. Beliau kelihatan kecewa seperti sayapun kecewa karena tidak bisa melihat Curug Cibeureum seperti yg saya harapkan sejak survey pertama.
Saya yakinkan bahwa seksi2 terkait sudah disiapkan utk menerima perubahan acara, tinggal keputusan dari Bapak Ketua.
Akhirnya Bapak Ketua setuju utk dibatalkan acara trekking dan dialihkan ke acara jalan2 di kebun teh (tea walk). Rute-pun disesuaikan, yg semula finish di Pondok Halimun, dirubah menjadi finish di hotel kembali.
Perubahan ini semula akan diumumkan oleh Ketua Panitia sendiri, tetapi setelah ada masukkan dari mas Joni (yg minta didramatisir dengan cerita adanya longsor), maka pa Ketua minta saya utk mengumumkannya.
Demikian sekelumit perubahan acara yg ternyata menyelamatkan kita semua dan di-nyatakan keputusan yg tepat oleh mas Jowardi, pakar trekking kita.
Wassalam.
Inilah Kisah Trekking ( benerannya :) ) ke Curug Cibereum - dari pak Joseph Wardi
Wcds rekan sekalian,
Tak terkatakan ucapan terima kasih yang dapat kami sekeluarga sampaikan kepada semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menggelar acara Hanata-4 di Selabintana.
Salut dan Bravo untuk semua; baik panitya, pendamping, pendukung, yang kelihatan maupun bayangan, terlebih pada peserta yang hadir. Banyak surprises yang kuperoleh, kejutan dadakan yang membuatku terkesima, aku harus waspada pada setiap tepukan pada pundak, karena dalam sekelebat terjadi lintas waktu mundur yang sangat cepat ke-masa silam. Kebanyakan kawan-kawan yang dulu se-‘kelingking’ sekarang ketemunya se-‘dua_jempol’ (ini ikutan pake bahasa sandi istrinya rekan Sukirno Santoso (Ekek-minus 2) lho!).
Mulai pertama kami sampai, sambil mengisi formulir, pertanyaan awalku adalah mana si ‘ini’, mana si ‘itu’. Tak lain untuk bertatap dan menyalami langsung keanggautaan panitya yang belum kukenal namun terbaca di e-mail. Setelah semua ketemu, baru kuatur waktu dan rencanaku. Ini dia …
Saya mengikuti Hanata kali ini lebih untuk keluarga sambil memantau kondisi, kebersamaan dan kemampuan masing-masing. Sudah beberapa bulan terakhir secara rutin kami adakan lari bersama hari minggu pagi dalam ritme yang medium; rata-rata 3 km dibawah 20 menit. Disamping itu karena yang putri sudah beresin kuliahnya maka dengan ditemani dia kita nambah setiap dua hari dengn patokan jarak 3 km harus dibawah 16 menit. Kenapa mereka mau? Kukatakan; terima kasih mau menemani, karena kalau tidak ‘papi’ gampang kena kolesterol, hipertensi, asam …, ostero … dll dll. Nah pas sebulan lalu dua anak (yang ikut no.3 dan 4) bersamaan masuk RS karena kena DBD sampai trombositnya 27 ribuan. Kami tentunya sangat kuatir, sehingga setelah 4-5 hari boleh pulang dari RS tgl 22 Des’07, meskipun nampak masih lemas, kami semua sangat lega, namun apakah mereka bisa diajak?
Kami berhati-hati mengembalikan keinginan mereka dengan makan yang pilihan, berjemur di matahari pagi, jogging ringan, sampai … dua hari minggu lalu mereka yang sakit nampak sudah ‘normal’. Anak-anak memang cepat pulih dan adaptasi! Maka setelah meminta ijin wali dan ketua kelas masing-masing (dengan ber-bohong-baik alias ‘a bit of white-lie’), seminggu lalu baru ku-’confirm’ … ikut Hanata.
Meskipun kuingat pernah bawa sekeluarga menginap di Selabintana namun ke-empat anak ngotot tidak ingat! Barulah setelah masuk gerbang, lihat pohon beringin raksasa, lihat kolam renang, lihat lapangan yang hijau, masing-masing mulai ingat. Setelah kukatakan bahwa kita juga pernah ke curug, lagi-lagi mereka katakan … belum dan tidak ingat. Wah repot nih pikirku, bisa-bisa tidak kesampaian dan bahkan membebani!
Maka sekitar jam 11:00 sudah kuputuskan untuk ‘recce’ perkiraan jalan untuk esoknya. Saat itu saya lupa berapa km jarak tempuh, namun perkiraanku sekitar 4-5 km lewat jalur normal.
Tujuanku adalah untuk menentukan diantara anggauta keluarga mana yang boleh ikut dan mana yang jangan untuk hari minggu!
Selesai makan siang jam 13:00. Kusiapkan diri berbekal sepatu yang beneran, GPS, tali kecil dll sambil membujuk 3 anak yang ngotot mau ikut. Sudah kukatakan acara-nya adalah besok, sekarang ikut aja fun&games! Melihat muka mereka yang asem, ya sudah hanya dua yang ikut kataku; yang pertama dan yang ke-empat (laki). Keduanya hampir setara, stamina bisa-lah untuk jarak sedang.
Teeeng ... tepat jam 13:30 kami bertiga beranjak. Odo=0.000, elevasi 970 m. Rencana berangkat lewat jalur setapak dilereng kiri, kembali lewat kebon teh sebelah atasnya. Sempat check-salah ambil jalur masuk kampung sebelah kiri bawah, papasan dengan pick-up L300 yang bawa batu pecah, namun kembali ke jalan setapak yang seharusnya. Saat aku nge-check itu anak-anak berpapasan dengan 5? Ekek muda yang rupanya baru turun survey juga. Setelah melewati beberapa perkemahan barulah ingatan mereka (anak-anak) muncul, terlebih setelah melintasi tempat wisata (Kali Age, elev=1,167 m) yang ada parkiran (saya tidak tahu bahwa itu namanya Pondok Halimun). Masuk lurus ke-kawasan cagar alam dengan penjaganya yang ngotot minta kita daftar, kalau tidak gak boleh masuk (mungkin kecuali bayar dulu!). Aku menoleh ke anakku yang ternyata keduanya juga gak bawa seketip-pun. Terpaksa ku-kibuli dikit; ini mau ngukur jarak buat acara rombongan besok pagi! Tapi tetap saja tidak boleh, bahkan satu diantara mereka maunya mengantar. Maka kusuruh kedua anakku untuk jalan duluan dengan kedipan, dan setelah lewat 100 meter, kukatakan nanti pulangnya baru daftar, anak-anak nanti kesasar ... sambil nanya; masih berapa jauh dan berapa tinggi? Nah disini diantara mereka bertiga tidak ada yang bisa jawab, he he. Kalau jarak lihat saja papan yang menunjukkan ”Curug –> 1,7 km”, tapi ketinggian ... nih lihat ... odo=3,620 m dari Hotel, elev=1,206 m. Nyelonong terus tanpa noleh lagi. Setelah ’sukses’ melewati ’mereka’, kami mempercepat langkah. Jalannya masih baik seperti dulu, lebar 1,5-1,8 m. Berbatu andesit hitam-keras disusun rapih dengan undakan yang cukup jelas, naik terus dengan gradasi ringan. Begitu seterusnya sampai harus melewati selokan kecil dengan air bening mengalir dari kiri ke kanan melewati betonan yang membentuk ’foot-steps’ persegi 30x30 cm sejumlah 12-14 buah. Air mengalir sejuk diantara celah 25 cm blok betonan ini, yang kuyakini merupakan sumber air dan nyambung sampai pelataran pondok Halimun. Seingatku dulu belum ada dan masih berupa bebatuan asli yang kalau air agak tinggi, sepatu pasti basah untuk menyeberanginya.
Beberapa menit jalan setelah itu ... lagi-lagi ada selokan-kali kecil yang mirip pertama. Kami cepat-cepat melewatinya. Yang kecil sudah mulai nanya, ”Berapa jauh lagi?” Kukatakan; ”nanti lewat belokan habis kanan terus kekiri akan kedengaran suara airnya”. ”Lho tadi kan sudah ada suara air?” cetusnya yang membuatku agak kuatir. Melewati suatu tanjakan yang melengkung ke kanan eeeh ... bertemu pos jaga lagi, malahan dilengkapi kios jualan juga. Ada seorang petugas yang kembali menanyakan mana pas jalan. ”Kalo belum ada bisa ambil disini; seorang tiga ribu” katanya. Karena benar-benar lupa bawa, akal yang sama kuulangi, ... bla bla bla, ... anak surah jalan terus. Waktu kutanya berapa tingginya, yang dijawab malah 54 m? Rupanya itu adalah ketinggian air terjun dari atas ke-bawah. Untuk jarak, katanya masih 1 km atau 20 menit-an. Posisi saat itu odo= 4,350m, elev=1,307 m. Ah tinggal 1 klik kataku pada keduanya setelah tersusul.
Maka hitungan mundurpun dibacakan keras-keras untuk menyemangati; 900, 800, 700 dst Jalan makin menanjak dan tidak beraturan, ada undakan yang curam, licin, sekali langkah naik 40 cm-an. Wah ini bisa payah apalagi kalau hujan kataku. Sampailah kami disuatu titik yang merupakan punggung bukit, ada sisa atap pondok naungan kecil, elevasi kucatat 1,478 m. Wah berarti kita sudah naik setinggi 500 meteran sejak start. Setelah itu jalan menurun cukup tajam tapi kondisinya baik. Setelah pembacaan mundur sampai nol, atau 1 kilo dari pos terakhir, ”mana dia curugnya kok gak muncul?” Aku tak mau nyebut angka sudah nol, kusebut saja 150 m. Dan setelah betulan 150 m lewat lagi tetap saja curugnya gak kedengaran apalagi kelihatan, akupun mulai was-was. Setelah melewati jembatan lengkung dari beton, jalan-pun mulai makin sulit dan licin menurun, harus lewat diantara celah batu yang berserakan, sampai ... sebelah kanan ada bekas puing lama, belok kiri, terus kanan, terus ... tahu-tahu nampak pemandangan yang menakjubkan disebelah kiri kami. Suara sih tidak begitu terdengar, namun melihat gerojogan air yang cukup tebal ditambah alur pecahan air di-kiri-kanan-nya betul-betul membuat kita sangat senang, terhibur, puas, bergembira dan bersyukur. Indah sekali.
Dibawahnya air berbuih, terbentuk semacam kubangan/danau kecil lebar antara 40 meteran. Kami cepat melewati bebatuan menyeberangi sungai yang berasal dari curug ini. Air betul-betul bening, namun tak jadi kutelan karena masih ada rasa tanah plus asin dari muka, mungkin kalau diendapkan setengah jam plus ’Norit’ bisa langsung diminum?
Tidak ada seorangpun disana. Kukatakan harus hati-hati ambil posisi cameranya karena hembusan angin plus butiran air halus cukup kencang!
Setelah mendapat tempat berlindung sebelah kiri yang banyak perdu tinggi, eh sampai lupa catatanku; jarak 5,650m dari start, elev=1,475 m. Saat itu jam 15:10 jadi kami sudah memakan waktu 1 jam 40 menit. Wah agak diluar perkiraanku yang semula 1 jam saja kalau sendirian. Segera kubatasi waktu agar segera kembali, meski kedua anak rupanya masih ingin berlamaan. Kukatakan; ”Udah besok aja kembali rame-rame!”
Start pulang dari curug jam 15:20, odo=0,000m. Perjalanan tidak terlalu sulit dan bisa lebih cepat karena sudah lebih hapal jalurnya. Gak tahu kenapa atau bagaimana tapi kedua anak ini jadi bisa jalan lebih cepat bahkan setengah lari. Kuminta mengerem karena sekali terpeleset jatuh pasti luka dibebatuan yang tajam dan tidak datar seperti ini!
Mendung, eh … kabut mulai nampak dan makin lama makin tebal, sampai saat mendekati puncak bukit yang baru tadi dilewati jarak pandang hanya 10 meteran! Tidak lama sampai kembali di pos atas, kusampaikan bahwa jaraknya bukan satu kilo tapi 1,3 kilo! Tapi penjaga ini tetap berbaik hati memberi detail untuk turun yang paling praktis dengan melewati kebun teh; bukan lewat jalan bebatuan. Kukatakan nanti bayarnya di dobel bertiga, sama kepala rombongan! Katanya; kiri lurus, lewati hutan sampai pinggir kebun teh dapat jalan, ikuti dan 3 kali ambil kanan. Betul juga kami dapat jalan tanah yang cukup lebar; 2,5-3 m bekas dilewati mobil. Udara terang kembali, tidak berkabut tebal meski mendung dan sedikit rintik-rintik. Belokan kanan ketiga tidak kami ikuti karena diperkirakan akan masuk parkiran pondok Halimun, jadi kami melambung kekiri.
Rupunya ini adalah jalan yang sama waktu kita trekking lewat kebun teh esok hari minggu-nya.
Sampai depan hotel 1 jam 07 menit, jarak 5,64 km, ‘not too bad’, kataku. Kami bersyukur tidak kekurangan sesuatu apapun sampai pulang, terlebih mendengar geledek dan hujan deras begitu masuk kamar.
Kusimpulkan pada yang sudah kuatiran menunggu; besok hari minggu anggauta keluarga yang boleh ikut ke curug cukup 3 orang, inipun bagi yang pegalnya bisa hilang cepat. Yang 3 lainnya baiknya ikut jalur teh ke pondok Halimun. Terlalu risiko gak bakal nyampe, dan bisa kembali kecapaian, dan lewat jam 12-an kataku, atau ... cukup sampai pos atas saja, baru ke pondok Halimun, nanti kucegat disitu!
Maka ... setelah acara makan malam sabtu itu dan mendengar intermezzo (kabar sedikit buruk) dari panitia waktu acara di aula, aku sudah duga akan ada suatu perubahan acara: ... buseeet, betuuul: ... Salut! Sangat tepat dan bijak untuk merubah rute perjalanan besoknya; jangan paksakan ke – Curug - untuk pagi hari itu! Soalnya yang mau dan bersemangat untuk ikut pasti banyak, tapi masalah bisa banyak juga!
Anak-anak pada bisikin ... untung kita udah pigi tadi ... , besok kita attach fotonya.
... disambung ...
Wassalam, jowardi.
Tak terkatakan ucapan terima kasih yang dapat kami sekeluarga sampaikan kepada semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menggelar acara Hanata-4 di Selabintana.
Salut dan Bravo untuk semua; baik panitya, pendamping, pendukung, yang kelihatan maupun bayangan, terlebih pada peserta yang hadir. Banyak surprises yang kuperoleh, kejutan dadakan yang membuatku terkesima, aku harus waspada pada setiap tepukan pada pundak, karena dalam sekelebat terjadi lintas waktu mundur yang sangat cepat ke-masa silam. Kebanyakan kawan-kawan yang dulu se-‘kelingking’ sekarang ketemunya se-‘dua_jempol’ (ini ikutan pake bahasa sandi istrinya rekan Sukirno Santoso (Ekek-minus 2) lho!).
Mulai pertama kami sampai, sambil mengisi formulir, pertanyaan awalku adalah mana si ‘ini’, mana si ‘itu’. Tak lain untuk bertatap dan menyalami langsung keanggautaan panitya yang belum kukenal namun terbaca di e-mail. Setelah semua ketemu, baru kuatur waktu dan rencanaku. Ini dia …
Saya mengikuti Hanata kali ini lebih untuk keluarga sambil memantau kondisi, kebersamaan dan kemampuan masing-masing. Sudah beberapa bulan terakhir secara rutin kami adakan lari bersama hari minggu pagi dalam ritme yang medium; rata-rata 3 km dibawah 20 menit. Disamping itu karena yang putri sudah beresin kuliahnya maka dengan ditemani dia kita nambah setiap dua hari dengn patokan jarak 3 km harus dibawah 16 menit. Kenapa mereka mau? Kukatakan; terima kasih mau menemani, karena kalau tidak ‘papi’ gampang kena kolesterol, hipertensi, asam …, ostero … dll dll. Nah pas sebulan lalu dua anak (yang ikut no.3 dan 4) bersamaan masuk RS karena kena DBD sampai trombositnya 27 ribuan. Kami tentunya sangat kuatir, sehingga setelah 4-5 hari boleh pulang dari RS tgl 22 Des’07, meskipun nampak masih lemas, kami semua sangat lega, namun apakah mereka bisa diajak?
Kami berhati-hati mengembalikan keinginan mereka dengan makan yang pilihan, berjemur di matahari pagi, jogging ringan, sampai … dua hari minggu lalu mereka yang sakit nampak sudah ‘normal’. Anak-anak memang cepat pulih dan adaptasi! Maka setelah meminta ijin wali dan ketua kelas masing-masing (dengan ber-bohong-baik alias ‘a bit of white-lie’), seminggu lalu baru ku-’confirm’ … ikut Hanata.
Meskipun kuingat pernah bawa sekeluarga menginap di Selabintana namun ke-empat anak ngotot tidak ingat! Barulah setelah masuk gerbang, lihat pohon beringin raksasa, lihat kolam renang, lihat lapangan yang hijau, masing-masing mulai ingat. Setelah kukatakan bahwa kita juga pernah ke curug, lagi-lagi mereka katakan … belum dan tidak ingat. Wah repot nih pikirku, bisa-bisa tidak kesampaian dan bahkan membebani!
Maka sekitar jam 11:00 sudah kuputuskan untuk ‘recce’ perkiraan jalan untuk esoknya. Saat itu saya lupa berapa km jarak tempuh, namun perkiraanku sekitar 4-5 km lewat jalur normal.
Tujuanku adalah untuk menentukan diantara anggauta keluarga mana yang boleh ikut dan mana yang jangan untuk hari minggu!
Selesai makan siang jam 13:00. Kusiapkan diri berbekal sepatu yang beneran, GPS, tali kecil dll sambil membujuk 3 anak yang ngotot mau ikut. Sudah kukatakan acara-nya adalah besok, sekarang ikut aja fun&games! Melihat muka mereka yang asem, ya sudah hanya dua yang ikut kataku; yang pertama dan yang ke-empat (laki). Keduanya hampir setara, stamina bisa-lah untuk jarak sedang.
Teeeng ... tepat jam 13:30 kami bertiga beranjak. Odo=0.000, elevasi 970 m. Rencana berangkat lewat jalur setapak dilereng kiri, kembali lewat kebon teh sebelah atasnya. Sempat check-salah ambil jalur masuk kampung sebelah kiri bawah, papasan dengan pick-up L300 yang bawa batu pecah, namun kembali ke jalan setapak yang seharusnya. Saat aku nge-check itu anak-anak berpapasan dengan 5? Ekek muda yang rupanya baru turun survey juga. Setelah melewati beberapa perkemahan barulah ingatan mereka (anak-anak) muncul, terlebih setelah melintasi tempat wisata (Kali Age, elev=1,167 m) yang ada parkiran (saya tidak tahu bahwa itu namanya Pondok Halimun). Masuk lurus ke-kawasan cagar alam dengan penjaganya yang ngotot minta kita daftar, kalau tidak gak boleh masuk (mungkin kecuali bayar dulu!). Aku menoleh ke anakku yang ternyata keduanya juga gak bawa seketip-pun. Terpaksa ku-kibuli dikit; ini mau ngukur jarak buat acara rombongan besok pagi! Tapi tetap saja tidak boleh, bahkan satu diantara mereka maunya mengantar. Maka kusuruh kedua anakku untuk jalan duluan dengan kedipan, dan setelah lewat 100 meter, kukatakan nanti pulangnya baru daftar, anak-anak nanti kesasar ... sambil nanya; masih berapa jauh dan berapa tinggi? Nah disini diantara mereka bertiga tidak ada yang bisa jawab, he he. Kalau jarak lihat saja papan yang menunjukkan ”Curug –> 1,7 km”, tapi ketinggian ... nih lihat ... odo=3,620 m dari Hotel, elev=1,206 m. Nyelonong terus tanpa noleh lagi. Setelah ’sukses’ melewati ’mereka’, kami mempercepat langkah. Jalannya masih baik seperti dulu, lebar 1,5-1,8 m. Berbatu andesit hitam-keras disusun rapih dengan undakan yang cukup jelas, naik terus dengan gradasi ringan. Begitu seterusnya sampai harus melewati selokan kecil dengan air bening mengalir dari kiri ke kanan melewati betonan yang membentuk ’foot-steps’ persegi 30x30 cm sejumlah 12-14 buah. Air mengalir sejuk diantara celah 25 cm blok betonan ini, yang kuyakini merupakan sumber air dan nyambung sampai pelataran pondok Halimun. Seingatku dulu belum ada dan masih berupa bebatuan asli yang kalau air agak tinggi, sepatu pasti basah untuk menyeberanginya.
Beberapa menit jalan setelah itu ... lagi-lagi ada selokan-kali kecil yang mirip pertama. Kami cepat-cepat melewatinya. Yang kecil sudah mulai nanya, ”Berapa jauh lagi?” Kukatakan; ”nanti lewat belokan habis kanan terus kekiri akan kedengaran suara airnya”. ”Lho tadi kan sudah ada suara air?” cetusnya yang membuatku agak kuatir. Melewati suatu tanjakan yang melengkung ke kanan eeeh ... bertemu pos jaga lagi, malahan dilengkapi kios jualan juga. Ada seorang petugas yang kembali menanyakan mana pas jalan. ”Kalo belum ada bisa ambil disini; seorang tiga ribu” katanya. Karena benar-benar lupa bawa, akal yang sama kuulangi, ... bla bla bla, ... anak surah jalan terus. Waktu kutanya berapa tingginya, yang dijawab malah 54 m? Rupanya itu adalah ketinggian air terjun dari atas ke-bawah. Untuk jarak, katanya masih 1 km atau 20 menit-an. Posisi saat itu odo= 4,350m, elev=1,307 m. Ah tinggal 1 klik kataku pada keduanya setelah tersusul.
Maka hitungan mundurpun dibacakan keras-keras untuk menyemangati; 900, 800, 700 dst Jalan makin menanjak dan tidak beraturan, ada undakan yang curam, licin, sekali langkah naik 40 cm-an. Wah ini bisa payah apalagi kalau hujan kataku. Sampailah kami disuatu titik yang merupakan punggung bukit, ada sisa atap pondok naungan kecil, elevasi kucatat 1,478 m. Wah berarti kita sudah naik setinggi 500 meteran sejak start. Setelah itu jalan menurun cukup tajam tapi kondisinya baik. Setelah pembacaan mundur sampai nol, atau 1 kilo dari pos terakhir, ”mana dia curugnya kok gak muncul?” Aku tak mau nyebut angka sudah nol, kusebut saja 150 m. Dan setelah betulan 150 m lewat lagi tetap saja curugnya gak kedengaran apalagi kelihatan, akupun mulai was-was. Setelah melewati jembatan lengkung dari beton, jalan-pun mulai makin sulit dan licin menurun, harus lewat diantara celah batu yang berserakan, sampai ... sebelah kanan ada bekas puing lama, belok kiri, terus kanan, terus ... tahu-tahu nampak pemandangan yang menakjubkan disebelah kiri kami. Suara sih tidak begitu terdengar, namun melihat gerojogan air yang cukup tebal ditambah alur pecahan air di-kiri-kanan-nya betul-betul membuat kita sangat senang, terhibur, puas, bergembira dan bersyukur. Indah sekali.
Dibawahnya air berbuih, terbentuk semacam kubangan/danau kecil lebar antara 40 meteran. Kami cepat melewati bebatuan menyeberangi sungai yang berasal dari curug ini. Air betul-betul bening, namun tak jadi kutelan karena masih ada rasa tanah plus asin dari muka, mungkin kalau diendapkan setengah jam plus ’Norit’ bisa langsung diminum?
Tidak ada seorangpun disana. Kukatakan harus hati-hati ambil posisi cameranya karena hembusan angin plus butiran air halus cukup kencang!
Setelah mendapat tempat berlindung sebelah kiri yang banyak perdu tinggi, eh sampai lupa catatanku; jarak 5,650m dari start, elev=1,475 m. Saat itu jam 15:10 jadi kami sudah memakan waktu 1 jam 40 menit. Wah agak diluar perkiraanku yang semula 1 jam saja kalau sendirian. Segera kubatasi waktu agar segera kembali, meski kedua anak rupanya masih ingin berlamaan. Kukatakan; ”Udah besok aja kembali rame-rame!”
Start pulang dari curug jam 15:20, odo=0,000m. Perjalanan tidak terlalu sulit dan bisa lebih cepat karena sudah lebih hapal jalurnya. Gak tahu kenapa atau bagaimana tapi kedua anak ini jadi bisa jalan lebih cepat bahkan setengah lari. Kuminta mengerem karena sekali terpeleset jatuh pasti luka dibebatuan yang tajam dan tidak datar seperti ini!
Mendung, eh … kabut mulai nampak dan makin lama makin tebal, sampai saat mendekati puncak bukit yang baru tadi dilewati jarak pandang hanya 10 meteran! Tidak lama sampai kembali di pos atas, kusampaikan bahwa jaraknya bukan satu kilo tapi 1,3 kilo! Tapi penjaga ini tetap berbaik hati memberi detail untuk turun yang paling praktis dengan melewati kebun teh; bukan lewat jalan bebatuan. Kukatakan nanti bayarnya di dobel bertiga, sama kepala rombongan! Katanya; kiri lurus, lewati hutan sampai pinggir kebun teh dapat jalan, ikuti dan 3 kali ambil kanan. Betul juga kami dapat jalan tanah yang cukup lebar; 2,5-3 m bekas dilewati mobil. Udara terang kembali, tidak berkabut tebal meski mendung dan sedikit rintik-rintik. Belokan kanan ketiga tidak kami ikuti karena diperkirakan akan masuk parkiran pondok Halimun, jadi kami melambung kekiri.
Rupunya ini adalah jalan yang sama waktu kita trekking lewat kebun teh esok hari minggu-nya.
Sampai depan hotel 1 jam 07 menit, jarak 5,64 km, ‘not too bad’, kataku. Kami bersyukur tidak kekurangan sesuatu apapun sampai pulang, terlebih mendengar geledek dan hujan deras begitu masuk kamar.
Kusimpulkan pada yang sudah kuatiran menunggu; besok hari minggu anggauta keluarga yang boleh ikut ke curug cukup 3 orang, inipun bagi yang pegalnya bisa hilang cepat. Yang 3 lainnya baiknya ikut jalur teh ke pondok Halimun. Terlalu risiko gak bakal nyampe, dan bisa kembali kecapaian, dan lewat jam 12-an kataku, atau ... cukup sampai pos atas saja, baru ke pondok Halimun, nanti kucegat disitu!
Maka ... setelah acara makan malam sabtu itu dan mendengar intermezzo (kabar sedikit buruk) dari panitia waktu acara di aula, aku sudah duga akan ada suatu perubahan acara: ... buseeet, betuuul: ... Salut! Sangat tepat dan bijak untuk merubah rute perjalanan besoknya; jangan paksakan ke – Curug - untuk pagi hari itu! Soalnya yang mau dan bersemangat untuk ikut pasti banyak, tapi masalah bisa banyak juga!
Anak-anak pada bisikin ... untung kita udah pigi tadi ... , besok kita attach fotonya.
... disambung ...
Wassalam, jowardi.
Kesan dan pesan dari Ketua Corps YON 1 - pak Wahyudi Parnadi
WCDS.
Atas nama pengurus corps, saya juga mengucapkan banyak terimakasih atas kerja keras panitia dibawah kumendan Ahya Rusdi dan panitia bayangan kang Djanaka, mas Susilo cs serta partisipasi aktif seluruh peserta sehingga temu corps ini memberikan kesan mendalam bagi kita semua.
Pak Ahya, selamat ya... walaupun dari pertemuan pertama persiapan temu corps di restonya kang Tutun anda kelihatan "low profile", dalam waktu hanya beberapa minggu Ahya berubah menjadi kumendan yang handal. Apa karena dukungan penuh dari wakil kumendan yang "all inn" ya...
Kang Djanaka, selamat buat kerja keras anda. Rasanya, kerja keras dan kegesitan dalam bekerja perlu dicontoh kami yang lebih junior nih...
Maaf saya dan 3 anggota keluarga baru datang bergabung sejak 8.15 di hari minggu. Rencana berangkat dari Bandung dinihari (seperti saya sampaikan ke
Oetomo/24 lewat sms) tidak kesampaian karena baru pukul 5.00 kami bangun.
Datang di Selabintana, kami menuju ke dalam ruangan di hotel yang ternyata ruang makan. Ternyata tersedia nasi goreng untuk sarapan. Saya lirik-lirik.. tidak ada sambal merah kuning hijaunya Uda Irzal yang saya tekadkan untuk dicicipi (apa masih ngumpet ya?).
J8.45an kami mencoba mengikuti rute tea-walk... sayang hanya beberapa ratus meter dan kami balik lagi setelah pinggang terasa sakit. Rupanya kami berempat kurang berolahraga selama ini. Tekad saya, untuk Hanata dua tahun lagi, akan mengikuti kegiatan2 semacam ini.Latihan pertama sudah
saya mulai sejak hari minggu itu! Pak Jo, Mas Susilo... siap2 kita
bertanding ya di Hanata dua tahun depan....
Rencana ketemu Arbain Rambey di temu corps ini gagal. padahal anak I saya saya bujuk ikut dengan alasan nanti dapat ketemu langsung dengan pak Arbain juru foto kompas yang terkenal itu di Selabintana untuk memperoleh advis tentang fotografi. Dengan modal Nikon D40X yang dulu dia impikan, setiap hari obyek apapun dibidik dengan tustelnya. Sayang, seminggu sebelum acara temu corps, lensanya bermasalah dan harus diservis yang hingga temu corps selesai belum juga kamera balik ke kami. Minggu pukul 09.00 Arbain saya call, yang ternyata masih di jalan dan baru 2 jam lagi sampai.Arbain... dimana you hari minggu??? sampai di Selabintana jam berapa? Ahya sempat menginfokan kalau Bain sudah sampai, pada waktu kami sudah akan pulang.
Beberapa rekan yang sudah terdaftar ikut dan ingin saya temui di temu corps ternyata batal datang: Irian Sitorus, Ellen (cuma mas Krisnya yang datang), Djoko Kuntono, Dewi W.... kemana saja kalian? semoga bisa bergabung di Hanata mendatang ya...
Rekan-rekan semua, "greget" keluarga besar corps yon I ITB sudah terbentuk kembali. Mari kita wujudkan rebuilding Yon 1.
Sampai ketemu di temu Corps dua tahun lagi.
Salam, Wahyudi W. Parnadi/16
Atas nama pengurus corps, saya juga mengucapkan banyak terimakasih atas kerja keras panitia dibawah kumendan Ahya Rusdi dan panitia bayangan kang Djanaka, mas Susilo cs serta partisipasi aktif seluruh peserta sehingga temu corps ini memberikan kesan mendalam bagi kita semua.
Pak Ahya, selamat ya... walaupun dari pertemuan pertama persiapan temu corps di restonya kang Tutun anda kelihatan "low profile", dalam waktu hanya beberapa minggu Ahya berubah menjadi kumendan yang handal. Apa karena dukungan penuh dari wakil kumendan yang "all inn" ya...
Kang Djanaka, selamat buat kerja keras anda. Rasanya, kerja keras dan kegesitan dalam bekerja perlu dicontoh kami yang lebih junior nih...
Maaf saya dan 3 anggota keluarga baru datang bergabung sejak 8.15 di hari minggu. Rencana berangkat dari Bandung dinihari (seperti saya sampaikan ke
Oetomo/24 lewat sms) tidak kesampaian karena baru pukul 5.00 kami bangun.
Datang di Selabintana, kami menuju ke dalam ruangan di hotel yang ternyata ruang makan. Ternyata tersedia nasi goreng untuk sarapan. Saya lirik-lirik.. tidak ada sambal merah kuning hijaunya Uda Irzal yang saya tekadkan untuk dicicipi (apa masih ngumpet ya?).
J8.45an kami mencoba mengikuti rute tea-walk... sayang hanya beberapa ratus meter dan kami balik lagi setelah pinggang terasa sakit. Rupanya kami berempat kurang berolahraga selama ini. Tekad saya, untuk Hanata dua tahun lagi, akan mengikuti kegiatan2 semacam ini.Latihan pertama sudah
saya mulai sejak hari minggu itu! Pak Jo, Mas Susilo... siap2 kita
bertanding ya di Hanata dua tahun depan....
Rencana ketemu Arbain Rambey di temu corps ini gagal. padahal anak I saya saya bujuk ikut dengan alasan nanti dapat ketemu langsung dengan pak Arbain juru foto kompas yang terkenal itu di Selabintana untuk memperoleh advis tentang fotografi. Dengan modal Nikon D40X yang dulu dia impikan, setiap hari obyek apapun dibidik dengan tustelnya. Sayang, seminggu sebelum acara temu corps, lensanya bermasalah dan harus diservis yang hingga temu corps selesai belum juga kamera balik ke kami. Minggu pukul 09.00 Arbain saya call, yang ternyata masih di jalan dan baru 2 jam lagi sampai.Arbain... dimana you hari minggu??? sampai di Selabintana jam berapa? Ahya sempat menginfokan kalau Bain sudah sampai, pada waktu kami sudah akan pulang.
Beberapa rekan yang sudah terdaftar ikut dan ingin saya temui di temu corps ternyata batal datang: Irian Sitorus, Ellen (cuma mas Krisnya yang datang), Djoko Kuntono, Dewi W.... kemana saja kalian? semoga bisa bergabung di Hanata mendatang ya...
Rekan-rekan semua, "greget" keluarga besar corps yon I ITB sudah terbentuk kembali. Mari kita wujudkan rebuilding Yon 1.
Sampai ketemu di temu Corps dua tahun lagi.
Salam, Wahyudi W. Parnadi/16
Kesan dan pesan dari Bima Hermastho - Prakarsa Selabintana perlu direalisasikan
Mbak Esthi, WCDS, Wow... salam RE-CHARGE! Pagi-pagi sudah online dan langsung report suasana kemarin. Pertama-2 turut berduka cita atas wafatnya Pak Harto, dengan segala kelebihan dan kekurangannya semoga dapat diampuni segala dosa dan diterima amal baiknya. Kedua, yang TIDAK BOLEH kita lupakan adalah PRAKARSA SELABINTANA 26 Januari 2008, harus didetilkan, dipilih skala prioritas dan dapat dijadikan momentum rebuilding, improving dan sustaining Corps Menwa MAHAWARMAN Yon 1. Tidak perlu terlalu banyak bicara koreksi redaksional, yang penting komitmen yang sudah dituangkan dalam PRAKARSA SELABINTAN (PS) harus diwujudkan dalam real action. Semoga PRAKARSA SELABINTANA dapat menjadikan payung dan kekuatan CORPS ber-sinergi lebih efektif lagi dalam men-support Yon 1 sebagai organisasi kader. Ketiga, untuk dokumentasi bisa mulai edit dan upload. Barangkali teman-2 yang tidak bisa hadir bisa ikut menikmati suasana Temu Corps. Rico & Kumendans Mohon di kirimkan hasil scan-nya, biar bisa di cermati dengan corps aktif. Kalau bisa dibuat MATRIX PRAKARSA SELABINTANA vs Real ACTION, trus kemudian di pareto, dipilihkan 3-6 program utama yang disinergikan dengan program 2008 Corps & Batalyon, seperti yang diminta dalam diskusi sabtu sore, rebuilding-improving-sustaining. Bima
Kesan dan pesan dari pak Oetomo Winarno
WCDS,
Terima kasih kepada panitia (Pak Ahya, Ibu Esthi, Ibu Maria, Ibu Nining, Pak Reno, Pak Samsi, Pak Budi Nir, dkk.), panitia bayangan (Pak Susilo, Pak Djanaka, dkk), bapak/ibu/rekan-2 dan seluruh peserta HANATA yang telah membuat acara HANATA begitu berkesan. Terima kasih atas kehangatan, kebersamaan, dan kekeluargaan yang diberikan. Terima kasih atas contoh yang diberikan para senior, berupa semangat yang tak kunjung padam “Old Ekek Never Die”.
Tanpa mengurangi penghargaan saya atas kerja keras panitia, saya rasa ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan untuk HANATA berikutnya:
- Acara api unggun yang kurang optimal, tidak seperti yang ramai dibahas di milis, bahwa akan diadakan berbagai acara dalam api unggun (kenangan tiap angkatan, lagu diksar, dsb) ternyata tidak terlaksana.
- Tenda pleton ternyata tidak dimanfaatkan, termasuk veldbed yang telah disewa, sama sekali tidak terpakai.
- Senam pagi yang kurang diarahkan, untungnya Pak Eko segera mengambil inisiatif memimpin senam.
- Alat peraga (water sanitation) yang dibawa tidak ter-ekspos.
- Door prize yang telah disiapkan tidak jadi dibagikan.
Namun demikian, secara total, acara telah berjalan sangat baik, dan sekali lagi terima kasih kepada panitia.
Oleh-oleh yang perlu ditindaklanjuti adalah PRAKARSA SELABINTANA, untuk terus mendukung keberlangsungan Yon I/ITB.
Wassalam,
Oetomo/24
Terima kasih kepada panitia (Pak Ahya, Ibu Esthi, Ibu Maria, Ibu Nining, Pak Reno, Pak Samsi, Pak Budi Nir, dkk.), panitia bayangan (Pak Susilo, Pak Djanaka, dkk), bapak/ibu/rekan-2 dan seluruh peserta HANATA yang telah membuat acara HANATA begitu berkesan. Terima kasih atas kehangatan, kebersamaan, dan kekeluargaan yang diberikan. Terima kasih atas contoh yang diberikan para senior, berupa semangat yang tak kunjung padam “Old Ekek Never Die”.
Tanpa mengurangi penghargaan saya atas kerja keras panitia, saya rasa ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan untuk HANATA berikutnya:
- Acara api unggun yang kurang optimal, tidak seperti yang ramai dibahas di milis, bahwa akan diadakan berbagai acara dalam api unggun (kenangan tiap angkatan, lagu diksar, dsb) ternyata tidak terlaksana.
- Tenda pleton ternyata tidak dimanfaatkan, termasuk veldbed yang telah disewa, sama sekali tidak terpakai.
- Senam pagi yang kurang diarahkan, untungnya Pak Eko segera mengambil inisiatif memimpin senam.
- Alat peraga (water sanitation) yang dibawa tidak ter-ekspos.
- Door prize yang telah disiapkan tidak jadi dibagikan.
Namun demikian, secara total, acara telah berjalan sangat baik, dan sekali lagi terima kasih kepada panitia.
Oleh-oleh yang perlu ditindaklanjuti adalah PRAKARSA SELABINTANA, untuk terus mendukung keberlangsungan Yon I/ITB.
Wassalam,
Oetomo/24
Kesan-kesan dari pak Santoso Soekirno
K E S A N – K E S A N
T E M U C O R P S
R E S I M E N M A H A W A R M A N
B A T A L Y O N I
I T B
26-27 Januari 2008
Selabintana, Sukabumi
Sukses besar buat Penyelenggara “Temu Corps Resimen Mahawarman, Batalyon I ITB”.
Disemua acara cukup terkesan.
Sayang udara kurang mendukung, terutama pada acara Api Unggun.
Merupakan kenangan yang tidak terlupakan, terutama bagi peserta EKEK – 1, 2 dan 3.
Kenang-kenangan seperti payung, topi, PIN, kalender, kaos cukup bagus, hanya design topi dirasa kurang indah.
Fasilitas transportasi dari Jakarta menuju Selabintana sangat memuaskan.
Fasilitas penginapan cukup baik.
Acara-acara dan jamuan makan yang disediakan oleh penyelenggara cukup bagus.
Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada penyelenggara “Temu Corps Resimen Mahawarman, Batalyon I ITB”, terutama kepada Dewi Irawati yang begitu baik melakukan koordinasinya.
Usul:
Apabila akan diadakan “Temu Corps” yang akan datang, sebaiknya jangan terlalu dekat dengan tahun 2008, paling ideal 2-3 tahun.
Sekali lagi saya ucapkan “Selamat” atas kesuksesan di “Selabintana”.
Salam hangat.
S.Soekirno, EKEK-1.
T E M U C O R P S
R E S I M E N M A H A W A R M A N
B A T A L Y O N I
I T B
26-27 Januari 2008
Selabintana, Sukabumi
Sukses besar buat Penyelenggara “Temu Corps Resimen Mahawarman, Batalyon I ITB”.
Disemua acara cukup terkesan.
Sayang udara kurang mendukung, terutama pada acara Api Unggun.
Merupakan kenangan yang tidak terlupakan, terutama bagi peserta EKEK – 1, 2 dan 3.
Kenang-kenangan seperti payung, topi, PIN, kalender, kaos cukup bagus, hanya design topi dirasa kurang indah.
Fasilitas transportasi dari Jakarta menuju Selabintana sangat memuaskan.
Fasilitas penginapan cukup baik.
Acara-acara dan jamuan makan yang disediakan oleh penyelenggara cukup bagus.
Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada penyelenggara “Temu Corps Resimen Mahawarman, Batalyon I ITB”, terutama kepada Dewi Irawati yang begitu baik melakukan koordinasinya.
Usul:
Apabila akan diadakan “Temu Corps” yang akan datang, sebaiknya jangan terlalu dekat dengan tahun 2008, paling ideal 2-3 tahun.
Sekali lagi saya ucapkan “Selamat” atas kesuksesan di “Selabintana”.
Salam hangat.
S.Soekirno, EKEK-1.
Kiriman dari pak Boesoer - Tarik Napas Dulu!
Ini kebanyakan para senior, sewaktu trekking telah mencapai 2,5
km.....mulai kehabisan nafas.
Untuk sekedar berhenti dan istirahat, maka pada cari alasan..... berfoto
dulu aaaach! sambil panjangkan nafas, agar bisa terus !(kecuali jawaranya
Ekek : Joseph Wardi tentunya!- sesudah berfoto ini dia...bukan jalan, tapi
.... lari keatas mengejar anak-anaknya yg sudah duluan!))
Antara lain Indrajaya,Aden,Joseph W, Tjarda, Yuyun, BS... maaf yg lain lupa
namanya)
Boesoer - 4
km.....mulai kehabisan nafas.
Untuk sekedar berhenti dan istirahat, maka pada cari alasan..... berfoto
dulu aaaach! sambil panjangkan nafas, agar bisa terus !(kecuali jawaranya
Ekek : Joseph Wardi tentunya!- sesudah berfoto ini dia...bukan jalan, tapi
.... lari keatas mengejar anak-anaknya yg sudah duluan!))
Antara lain Indrajaya,Aden,Joseph W, Tjarda, Yuyun, BS... maaf yg lain lupa
namanya)
Boesoer - 4
Senin, 28 Januari 2008
Laporan Trekking-trekkingan Old Ekek

Laporan trekking.
Ini gaya Old Ekek ber-trekking ria, yang sebenernya sih cuma tea walk biasa saja, cuma dikemas dengan nama yang lebih gagah. Ini kira-kira waktu baru satu kiloan, jadi masih gagah-gagah. Mas Nono juga masih bergaya jalan duluan.
Setelah diinventaris, macem-macem kelakuan Ekek kolot teh. Wangki jalan cuma pake sepatu sendal aja, lumayan masih buatan luar jadi ga copot solnya di jalan yang berbatu-batu. Djoni Saleh pake sepatu lancip yang solnya datar. Katanya sepatu ketsnya dipinjem Dewi - Ekek 2, Djoni kan kakinya kecil jadi pas aja. Dia yang selalu bilang 'awas licin', karena emang sepatu dia yang licin. Krebet juga pake sepatu yang biasa dipake ke mall, itu tuh mocasin yang pake jambul-jambul. Katanya ga nyangka mau dipaksa ikut trekking. Jadilah rombongan kita jalan dengan segala keunikannya itu .
Sepanjang jalan . . . . eh . . . ., waktu awal jalan . . . . , yang diomongin itu bisnis aja. Salah satu jadi topik itu cerita dari Tunggono - Ekek 3, mantan Direktur PLN. Di foto ini dia yang kedua dari kiri, tangannya lagi nunjuk-nunjuk sedang sibuk menjelaskan bisnis kelistrikan. Jadi yang diomongin itu soal KWH, pembangkit micro dll. Bisnisnya gini, satu KWH itu dijual 50 ke PLN, bersihnya bisa dapet 30an perbulan, kalo gak salah begitu karena persis waktu dijelaskan soal yang ini aku jalan rada dibelakang, jadi kurang denger jelas. Modal 5 M bisa, return tujuh tahun . . . . dll. Jadilah kita sambil jalan ikut ngomentar, ngitung-ngitung bati / untung bisnisnya brapa dll. Mas Gunardi yang cukup semangat, ngitung . . . eh . . sekian ... persen . . heh . . heh . . berapa yah . . . .hoh . . hoh . . . Rupanya sudah mulai susah antara ngatur napas yang sudah mulai berat dengan ngitung-ngitung bisnis. Tambah lama jalan tambah nanjak, cerita bisnis udah hilang . . . semua cuma ngatur napas, supaya tetap bisa tetap jalan ga goyang.
Kalau dilihat 'body'nya, juga macem-macem. Nono, Djoni Saleh itu termasuk golongan 'begang' yang masih seperti dulu saja kurusnya. Aku termasuk yang sudah 'melar'. Kalau dulu berat badan cuma 68 kg, sekarang udah 86 kg. Berat segitu aku dulu waktu masih aktif di batalyon sudah 'termasuk' bren, peluru cadangan, ransel dengan isinya dll. Jadi sebetulnya beratnya sih tetep, cuma semua beban berat dulu itu sudah masuk kedalam badan yang jadi bongsor. Wangki, Bambang Pra, Gunardi, Budiono dll, semua juga sudah ada kemajuan. maksudnya perutnya yang sudah maju.
Anyhow, we enjoy every minute of it.
Salam,
Tutun - 3
Ini gaya Old Ekek ber-trekking ria, yang sebenernya sih cuma tea walk biasa saja, cuma dikemas dengan nama yang lebih gagah. Ini kira-kira waktu baru satu kiloan, jadi masih gagah-gagah. Mas Nono juga masih bergaya jalan duluan.
Setelah diinventaris, macem-macem kelakuan Ekek kolot teh. Wangki jalan cuma pake sepatu sendal aja, lumayan masih buatan luar jadi ga copot solnya di jalan yang berbatu-batu. Djoni Saleh pake sepatu lancip yang solnya datar. Katanya sepatu ketsnya dipinjem Dewi - Ekek 2, Djoni kan kakinya kecil jadi pas aja. Dia yang selalu bilang 'awas licin', karena emang sepatu dia yang licin. Krebet juga pake sepatu yang biasa dipake ke mall, itu tuh mocasin yang pake jambul-jambul. Katanya ga nyangka mau dipaksa ikut trekking. Jadilah rombongan kita jalan dengan segala keunikannya itu .
Sepanjang jalan . . . . eh . . . ., waktu awal jalan . . . . , yang diomongin itu bisnis aja. Salah satu jadi topik itu cerita dari Tunggono - Ekek 3, mantan Direktur PLN. Di foto ini dia yang kedua dari kiri, tangannya lagi nunjuk-nunjuk sedang sibuk menjelaskan bisnis kelistrikan. Jadi yang diomongin itu soal KWH, pembangkit micro dll. Bisnisnya gini, satu KWH itu dijual 50 ke PLN, bersihnya bisa dapet 30an perbulan, kalo gak salah begitu karena persis waktu dijelaskan soal yang ini aku jalan rada dibelakang, jadi kurang denger jelas. Modal 5 M bisa, return tujuh tahun . . . . dll. Jadilah kita sambil jalan ikut ngomentar, ngitung-ngitung bati / untung bisnisnya brapa dll. Mas Gunardi yang cukup semangat, ngitung . . . eh . . sekian ... persen . . heh . . heh . . berapa yah . . . .hoh . . hoh . . . Rupanya sudah mulai susah antara ngatur napas yang sudah mulai berat dengan ngitung-ngitung bisnis. Tambah lama jalan tambah nanjak, cerita bisnis udah hilang . . . semua cuma ngatur napas, supaya tetap bisa tetap jalan ga goyang.
Kalau dilihat 'body'nya, juga macem-macem. Nono, Djoni Saleh itu termasuk golongan 'begang' yang masih seperti dulu saja kurusnya. Aku termasuk yang sudah 'melar'. Kalau dulu berat badan cuma 68 kg, sekarang udah 86 kg. Berat segitu aku dulu waktu masih aktif di batalyon sudah 'termasuk' bren, peluru cadangan, ransel dengan isinya dll. Jadi sebetulnya beratnya sih tetep, cuma semua beban berat dulu itu sudah masuk kedalam badan yang jadi bongsor. Wangki, Bambang Pra, Gunardi, Budiono dll, semua juga sudah ada kemajuan. maksudnya perutnya yang sudah maju.
Anyhow, we enjoy every minute of it.
Salam,
Tutun - 3
Langganan:
Postingan (Atom)
















